Zaman Megalitikum, Pengertian, Ciri-Ciri, Peninggalan dan Hasil Kebudayaannya [Lengkap]

Jika sebelumnya kita telah bahas zaman praaksara, kali ini kita akan bahas zaman megalitikum. Beberapa dari kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan zaman lampau ini. Zaman megalitikum biasanya kita pelajari di sejak sekolah menegah pertama.

Dalam artikel ini kita akan membahas seputar zaman megalitikum atau orang sering menyebutnya dengan zaman batu. Mulai dari pengertian, ciri-ciri, peninggalan sampai kepercayaan orang-orang di zaman megalitikum.

Pengertian Zaman Megalitikum   

Apa itu zaman megalitikum? Zaman megalitikum adalah zaman dimana semua peralatan yang digunakan sehari-hari terbuat dari batu. Mulai dari perabot rumah tangga, peralatan berburu dan beberapa peralatan lainnya, semua berasal dari batu.

Oleh sebab itu, zaman ini juga disebut dengan zaman batu. Zaman batu dibagi dibedakan menjadi beberapa periode, dan megalitikum merupakan salah satu pembagian dari zaman batu ini.

Megalitikum merupakan zaman batu besar. Diambil dari kata mega dan litikum, mega yang berarti besar dan litikum yang berarti batu. Kenapa dinamakan dengan zaman batu besar? Karena, pada zaman-zaman ini manusia purba hanya mampu membuat peralatan dari batu yang berukuran besa.

Peralatan yang banyak dibuat pada masa ini diantaranya yakni kapak batu, rumah batu dan berbagai perlengkapan sehari-hari lainnya. Arkeolog umumnya menandai masa megalitikum ini dari alat-alat berupa berbagai bentuk batu yang ditemukan diberbagai daerah.

Ciri Ciri Zaman Megalitikum  

Dari berbagai benda peninggalan sejarah yang ditemukan oleh para peneliti, terungkap bahwa ada ciri-ciri yang melekat dengan zaman megalitiku. Tentu saja ciri-ciri zaman megalitikum berbeda dengan zaman-zaman lainnya.

1. Telah mengetahui sistem pembagian kerja

Pada masa ini msyarakat sudah mulai mengenal pembagian kerja. Antara pemburu, mencari kayu, berladang, memasak dan sebagainya. Namun, meskipun sudah ada sistem pembagian kerja, manusia zaman ini tetap erat soal kerja sama.

Mereka sering melakukan kerja sama seperti saat membuat pintu air, parit, dan juga mendirikan rumah.

2. Telah ada pemimpin atau kepala suku

Masa ini juga sudah memiliki kepala suku yang mana kepala suku ini merupakan salah seorang yang dihormati dan disegani oleh orang-orang pada masa itu.

Kepala suku bertanggung jawab kepada orang-orang yang ada di lingkungannya. Seperti kepala suku atau kepala desa yang ada pada saat ini. Kepala suku yang ada di masa megalitikum juga berkewajiban menjaga kerukunan dan mengayomi masyarakatnya.

Menjaga anggotanya dari ancaman kelompok lain atau dari ancaman binatang buas. Pemimpin adat atau suku ini sering disebut dengan ketua desa atau datuk.

3. Sudah memiliki norma-norma yang berlaku

Selain memiliki kepala suku, manusia-manusia yang hidup di masa ini juga telah memiliki seperangkat nilai yang mereka patuhi pertama. Norma yang disepakati ini lantas menjadi sumber hukum sosial tertinggi di masanya.

Jika ada anggotanya yang melanggar, maka kepala suku/adat yang berkewajiban menjadi hakim, penengah atau pihak yang menghakimi.

4. Menggunakan sistem hukum rimba

Meskipun sudah ada norma yang disepakati Bersama, namun, zaman ini masih menggunakan hukum rimba. Yakni, siapa yang kuat maka ia yang menang.

Hukum rimba menjadi alternative atau culture yang digunakan pada masa itu, karena belum ada sistem hukum yang jelas dan mengikat. 

5. Sudah mengenal food producing

Manusia pada zaman ini sudah mengenal produksi makanan (food producing) dalam kehidupan sehari-hari. Bahan makanan yang diolah beberapa dari hasil pertanian dan ada pula yang berasal dari hutan atau hasil buruan.

Jadi, pada zaman ini bisa dikatakan bahwa, manusia sudah mampu mengolah dan memanfaatkan hutan dengan cara yang lebih baik.

6. Sudah mengenal cocok tanam

Berbagai tanaman suda mulai dibudidayakan pada zaman ini. masyarakat sudah mampu melakukan cocok tanam dan mampu mengidentifikasi tanaman mana yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari.

Kehidupan mereka sudah menetap dan tidak lagi berpindah-pindah. Selain itu, mereka juga sudah mulai mengetahui hewan mana yang bisa mereka jinakan. Meskipun pada zaman ini orang-orang kehidupan sudah mulai teratur, namun budaya berburu di hutan dan mencari ikan di laut tetap mereka lakukan.

Manusia Pendukung Zaman Megalitikum   

Terdapat beberapa manusia pendukung pada zaman megalitikum ini, adapun diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Meganthropus paleojavanicus (manusia berukuran besar)
  • Pithecanthropus (manusia kera)

Pithecanthropus sendiri dibagi menjadi 3 yakni pithecanthropus erectus (manusia kera dengan jalan tegab), pithecanthropus mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto), pithecanthropus soloensis (manusia kera dari Solo).

Peninggalan dan Hasil Kebudayaan Zaman Megalitikum 

Zama megalitikum meninggalkan berbagai peninggalan. Termasuk juga hasil kebudayaan.

1. Arca atau Patung Zaman Megalitikum

Arca atau patung peninggalan zaman Megalitikum ini yakni berupa batu yang berbentuk binatang atau manusia. Arca atau patung yang dibuat ini dibangun sebagai penggambaran nenek moyang, digunakan sebagai simbol saat pemujaan.

Di Indonesia peninggalan ini ditemukan di beberapa tempat, diantaranya yakni Pasemah (Sumatera Selatan), Lembah Bada Lahat (Sulawesi Selatan).

2. Punden berundak zaman megalitikum   

Punden berundak merupakan salah satu jenis peninggalan zaman batu yang sangat terkenal. Punden berundak berbentuk bangunan yang berteras-teras digunakan sebagai tempat pemujaan roh-roh nenek moyang yang telah meninggal.

Sumber lain menyebutkan bahwa, punden berundak merupakan cikal bakal terbentuknya candi di Indonesia. Punden berundak peninggalan zaman batu ini ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, diantaranya adalah daerah Lebak Sibedug (Banten Selatan), Leles (Garut) dan juga Kuningan Jawa Barat.

3. Dolmen zaman megalitikum 

Dolmen memiliki bentuk layaknya meja. Peninggalan ini dulunya merupakan meja khusus yang dibuat sebagai tempat sesaji. Saat pemujaan terhadap nenek moyang, meja sesaji ini akan penuh dengan berbagai jenis sesembahan untuk nenek moyang.

Dolmen juga banyak ditemukan di Indonesia, diantaranya yakni di Besuki Jawa Timur. Dolmen ini juga sering disebut oleh masyarakat dengan istilah pandhusa.   

4. Sarkofagus zaman megalitikum   

Sarkhofagus merupakan peti mati yang terbuat dari batu. Peti mati ini digunakan untuk menyimpan jenazah manusia zaman batu yang meninggal. Jika kita amati kembali, peti mati ini malah hampir mirip dengan lesung yang biasa digunakan untuk menumbuk padi kopi dan sebagainya.

Peti mati ini, juga dihiasi dengan ukiran-ukiran unik yang menggambarkan roh atau kematian. Sarkhofagus juga telah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, yang paling terkenal yakni Sarkofagus yang terdapat di Bondowoso Jawa Timur.

5. Menhir zaman Megalitikum

Jika kita melihat peninggalan zaman batu yang berupa tugu atau batu besar Panjang yang berdiri kokoh, ini disebut juga dengan Menhir. Fungsi dari menhir ini yakni sebagai tanda peringatan nenek moyang.

Menhir, juga banyak ditemukan di Indonesia. Diantara tempat-tempat yang ditemukan menhir ini adalah Pasemah (Sumatera Selatan), Ngada (Flores), Rembang (Jawa Tengah), serta Lahat (Sumatera Selatan).

6. Kuburan Batu

Tak hanya peti dari batu yang digunakan untuk menyimpan jenazah, satu lagi penemuan yang diidentifikasi sebagai tempat mengubur mayat pada zaman megalitikum adalah kuburan batu.

Kuburan batu ini ditemukan di banyak wilayah Indonesia. Beberapa daerah tersebut diantaranya adalah Bali, Pasemah (Sumatera Selatan), Wonosari (Yogyakarta), Cepu (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat).

Corak Kehidupan Zaman Megalitikum

Kehidupan pada zaman megalitikum ini bisa dikatakan sudah mulai tertata dengan baik. Seperti halnya soal tempat tinggal. Manusia purba yang sebelumnya memilih untuk hidup berpindah-pindah atau  nomaden, pada masa ini manusia purba sudah mulai menetap.

Mereka memiliki satu daerah khusus untuk tempat tinggal dan memiliki daerah khusus pula untuk bercocok tanam. Mereka sudah memiliki kepala suku untuk mengatur dan memimpin daerah tersebut.

Keseharian mereka sudah mengenal food producing, memproduksi makanan untuk konsumsi sehari-hari. Menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu mereka melakukan berbagai aktivitas mereka termasuk food producing ini.

Alat-alat yang terbuat dari baru tersebut juga mereka gunakan untuk berburu, Bertani dan aktivitas lainnya. Sehingga antropolog mengatakan bahwa, yang menonjol dari zaman ini adalah penggunaan alat-alat sehari-hari yang terbuat dari batu besar.

Ciri Kehidupan Manusia Purba Zaman Megalitikum 

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kehidupan manusia purba ini sudah jauh teratur dibanding zaman-zaman sebelumnya. Hal ini terlihat dari berbagai peninggalan yang ada. Mereka sudah menetap di suatu daerah, mengenal pertanian, dan mengenal proses produksi makanan.

Dan yang paling menonjol dari ciri kehidupan zaman ini adalah, manusia-manusia purba zaman megalitikum telah mengenal sistem pembagian kerja. Laki-laki untuk pergi Bertani dan berburu, perempuan memiliki pekerjaan memproduksi makanan di tempat mereka tinggal.   

Cara Hidup Manusia Zaman Megalitikum  

Karena sebelumnya mereka berpindah-pindah dengan bergerombol, di tempat mereka menetap mereka tetap bergerombol. Memilih salah seorang yang disegani untuk menjadi pemimpin mereka.

Pemimpin ini bertugas untuk melindungi sekelompok orang yang tinggal di Kawasan mereka  tersebut. Pemimpin harus mampu melindungi dari ancaman binatang buas atau orang-orang di luar kelompok mereka.

Karena sudah menetap pula, mereka bepergian hanya untuk Bertani, mencari kayu, mencari makan di hutan, berburu dan mencari ikan di laut. Untuk pengolahan makanan, mereka tetap olah di tempat tinggal mereka. Sehingga, kehidupan mereka sudah jauh lebih tertata.

Kehidupan Sosial Zaman Megalitikum   

Zaman megalitikum yang sudah mulai tertata ini membuat mereka memiliki seperangkat norma yang mereka sepakati. Seperangkat norma ini berisi hak dan kewajiban yang mengikat sekelompok orang yang ada di setiap kawasan.

Jika ada yang melanggar maka, sang pemimpin juga memiliki kewajiban untuk menegur atau memberi hukuman. Namun, untuk hukum rimba, pada zaman megalitikum ini belum juga hilang.

Hukum yang kuat yang menang dan memimpin masih sangat kental di kehidupan sosial zaman ini. Jadi tidak heran jika, manusia di zaman ini sangat besar-besar dan kuat-kuat, hal tersebut sebagai salah satu cara untuk bertahan diri di tengah hukum rimba yang masih berlaku.

Kepercayaan Zaman Megalitikum

Sistem kepercayaan pada zaman ini yakni Animisme, dinamisme dan tetonisme. Animism yakni kepercayaan terhadap roroh nenek moyang yang mampu mendiami berbagai benda-benada yang ada di bumi.

Kepercayaan animism ini ditandai dengan banyak ditemukannya benda-benda seperti arca, dolem dan sebagainya yang digunakan untuk upacara pemujaan nenek moyang.

Dinamisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda baik hidup maupun mati memiliki kekuatan gaib dan beberapa kekuatan tersebut bersifat suci. Sifat suci mampu memancarkan kebaikan kepada manusia yang ada di bumi. Oleh sebab itu, beberapa benda, pohon, hewan dianggap keramat dan suci oleh orang-orang zaman megalitikum.

Untuk pemujaan terhadap binatang disebut juga dengan totemisme. Totemisme merupakan kepercayaan menyembah binatang karena percaya bahwa beberapa binatang memiliki kekuatan yang harus dirawat, dan dihormati.

Kepercayaan zaman megalitikum ini ditandai dengan beberapa peninggalan-peninggalan yang ada. Selain itu ditemukannya ukiran, arca dan beberapa benda lain juga menjadi dasar arkeolog untuk mengidentifikasi kepercayaan yang dianut oleh manusia di zaman megalitikum.

Itulah gambaran bagaimana kehidupan di zaman megalitikum dari berbagai sumber. Semoga sudah bisa kamu bayangkan.

3 Replies to “Zaman Megalitikum, Pengertian, Ciri-Ciri, Peninggalan dan Hasil Kebudayaannya [Lengkap]”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.