Zaman Logam, Pengertian, Ciri-Ciri, Peninggalan dan Hasil Kebudayaannya [Lengkap]

Zaman Logam

Sesuai dengan namanya, zaman logam adalah zaman berkembangnya peralatan berbahan dasar logam. Masyarakat pada zaman ini sudah banyak yang menggunakan bahan logam untuk keperluan sehari-hari.

Namun, peralatan masa-masa sebelumnya juga masih digunakan yaitu pada zaman batu. Perbedaan dari zaman batu dengan zaman logam adalah teknik dasar pembuatannya.

Pada zaman batu, untuk membentuk sebuah batu menjadi peralatan yang berfungsi maka harus dipecah, dibelah, dipukul dan lain sebagainya. Sedangkan pada zaman logam, bahan logam ini harus dilebur atau dicairkan agar bisa dicetak ke dalam berbagai jenis cetakan.

Pengertian Zaman Logam

Zaman logam merupakan masa di mana peradaban sudah berkembang dan masyarakatnya sudah berpikir maju. Disebut zaman logam karena pada masa ini masyarakat sudah mulai mengenal logam dan memanfaatkannya untuk membuat berbagai macam alat untuk kebutuhan sehari.

Hal ini juga dipicu oleh kebutuhan manusia yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan keterampilan pada masing-masing bidang kehidupan.

Zaman ini juga disebut dengan zaman perundagian karena banyak undagi atau orang terampil yang berkarya mengolah logam. Teknik pengolahan logam itu sendiri sebenarnya lebih mudah daripada pengolahan batu.

Caranya yaitu dengan meleburkan logam menjadi cairan lalu dimasukkan ke dalam cetakan.

Ciri-ciri Zaman Logam

Nah, untuk lebih mengenal masa-masa peradaban masyarakat pengrajin logam atau zaman logam, berikut ini ciri-cirinya, antara lain:

1. Berkembangnya Pengrajin Logam

Sesuai dengan namanya, zaman logam merupakan masa kejayaan dan perkembangan teknik pengolahan logam. Banyak sekali peninggalan-peninggalan dari masa ini yang menggunakan bahan dasar logam.

Misalnya cincin, kalung, gelang, anting-anting, candrasa, kapak corong, arca perunggu, nekara dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan peralatan tersebut digunakan oleh masyarakat di zaman ini.

2. Kegiatan Perdagangan dengan Sistem Barter

Sistem dan kegiatan perdagangan pada zaman logam sudah berkembang pesat mulai dari antar pulau di Indonesia hingga ke negara-negara Asia Tenggara.

Perdagangan umumnya dilakukan dengan sistem barter, yaitu pertukaran barang satu dengan barang lain yang dianggap seimbang melalui kesepakatan kedua belah pihak.

Beberapa contoh barang yang digunakan pada sistem barter masa itu adalah nekara perunggu, rempah-rempah, manik-manik, kayu, timah dan moko.

3. Bidang Pertanian Semakin Maju

Dalam bidang pertanian, masyarakat zaman logam sudah sangat maju, dibuktikan dengan penggunaan sistem persawahan yang lebih efektif dan efisien daripada sistem ladang.

4. Budaya Penguburan Mayat

Pada zaman logam, budaya penguburan mayat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Berikut ini penjelasan keduanya, antara lain:

  • Budaya Penguburan Mayat Secara Langsung, dilakukan dengan memasukkan mayat ke dalam peti lalu dikuburkan ke dalam tanah atau tanpa menggunakan peti.
  • Budaya Penguburan Mayat Secara Tidak Langsung, dilakukan dengan dua tahap. Pertama, dilakukan seperti penguburan secara langsung dengan memasukkan mayat ke dalam peti kayu berbentuk perahu dan menguburkannya ke dalam tanah atau tanpa menggunakan peti. Kemudian, setelah mayat menjadi rangka maka rangka atau tulang belulang tersebut akan diambil dan dikuburkan kembali ke dalam kuburan batu atau disebut tempayan.

Pembagian Zaman Logam

Zaman logam itu sendiri sebenarnya dibagi menjadi tiga masa atau zaman, yaitu zaman tembaga, perunggu dan besi. Di Indonesia, zaman logam hanya terjadi pada masa kejayaan zaman perunggu dan besi.

Sedangkan zaman tembaga tidak terjadi di Indonesia, hal ini didasarkan oleh teori dari beberapa ahli. Nah, untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dibahas satu per satu mengenai tiga pembagian zaman logam, antara lain:

1. Masa Kejayaan Zaman Tembaga

Beberapa ahli mengatakan bahwa Indonesia tidak terpengaruh atau tidak mengalami zaman tembaga. Hal ini juga dibuktikan dengan tidak ditemukannya peninggalan sejarah dari zaman tembaga.

Zaman ini terjadi di beberapa negara di sekitar Indonesia seperti Malaysia, Thailand, Kamboja dan juga Vietnam. Masa kejayaan zaman tembaga itu sendiri merupakan masa-masa awal masyarakat mengenal logam atau masa awal zaman logam.

Pada masa zaman tembaga ini, manusia mulai menggunakan tembaga untuk membuat berbagai peralatan. Peralatan tersebut bermacam-macam dan digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

2. Masa Kejayaan Zaman Perunggu

Jika di negara-negara tetangga Indonesia mengalami zaman tembaga sebagai masa awal zaman logam, maka di Indonesia sendiri zaman logam diawali dengan zaman perunggu. Saat itu, masyarakat di Indonesia mulai menggunakan perunggu untuk membuat berbagai macam peralatan.

3. Masa Kejayaan Zaman Besi

Zaman besi bisa dikatakan sebagai puncak kejayaan zaman logam karena peralatan dari bahan besi dianggap lebih sempurna dari tembaga/perunggu.

Cara atau teknik yang digunakan adalah dengan meleburkan bijih besi menjadi cairan dan menuangkannya pada cetakan.  Peninggalan zaman besi di Indonesia seperti mata sabit, mata pedang, mata pisau, mata kapak, cangkul dan lain sebagainya.

Peninggalan tersebut ditemukan di Gunung Kidul Yogyakarta, Bogor, serta di daerah Jawa Timur di Besuki dan Punung. Mata sabit fungsinya untuk menyabit tumbuhan dan mata kapak digunakan untuk membelah kayu.

Hasil Kebudayaan Zaman Logam/Peninggalan Zaman Logam

Peninggalan atau hasil kebudayaan zaman logam yang ditemukan pada masa itu adalah sebagai berikut:

1. Kapak Corong atau Kapak Sepatu

Kapak Corong atau disebut juga dengan kapak sepatu adalah alat kebesaran dan digunakan pada upacara-upacara adat. Kapak ini berbentuk seperti corong, oleh sebab itu disebut dengan nama kapak corong. Lokasi penemuan kapak corong atau kapak sepatu ini berada di Bali, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

2. Arca Perunggu

Arca adalah semacam patung, dalam hal ini terbuat dari perunggu. Pada zaman ini, arca perunggu ada yang berbentuk manusia maupun binatang. Biasanya memiliki bentuk yang kecil dan terdapat cincin di bagian atasnya yang berfungsi untuk menggantungkan arca tersebut.

Di Indonesia, arca perunggu ditemukan di Limbangan (Bogor), Bangkinang (Riau) dan Palembang (Sumatera Selatan).

3. Bejana Perunggu

Bejana perunggu di Indonesia banyak ditemukan di tepian Danau Kerinci (Sumatera) dan Madura. Bejana-bejana yang sudah ditemukan tersebut memiliki hiasan yang mirip atau serupa dan sangat indah yaitu berupa gambar geometri dan pilin-pilin mirip huruf J.

Bejana perunggu itu sendiri adalah semacam periuk tetapi bentuknya lebih langsing dan gepeng.

4. Candrasa

Candrasa merupakan alat semacam senjata yang berbentuk seperti kapak, tetapi alat ini tidak digunakan untuk perang atau bertani. Hal ini dikarenakan candrasa tidak terlalu kokoh dan kuat.

Alat yang disebut candrasa ini ditemukan di Bandung dan diperkirakan memiliki fungsi untuk keperluan upacara.

5. Nekara

Nekara merupakan genderang berukuran besar yang biasanya digunakan pada kegiatan upacara ritual, terutama sebagai pengiring pada upacara ritual kematian atau upacara pemanggil hujan.

Selain itu, nekara ini juga digunakan sebagai genderang perang yang sempit di bagian pinggangnya. Nekara terbesar yang ada di Indonesia ditemukan di Bali dan dinamakan nekara ‘The Moon of Pejeng’.

6. Moko

Moko merupakan alat sejenis nekara yang ukurannya lebih kecil dan fungsinya sebagai benda pusaka kepala suku. Moko ini akan diwariskan kepada anak laki-laki dari kepala suku dan juga digunakan sebagai mas kawin.

Peninggalan berupa moko lebih bayak ditemukan di Pulau Alor dan Pulau Flores atau Manggarai

7. Benda Lainnya

Masih ada benda-benda lainnya yang ditemukan seperti perhiasan misalnya kalung, gelang, manik-manik untuk penguburan mayat dan benda lain semacam senjata. Beberapa ditemukan di pulau Flores dan Jawa Timur.

Manusia Zaman Logam

Masyarakat yang hidup pada zaman ini merupakan adalah masyarakat Melayu Muda dan Deutro Melayu. Masyarakat ini kebanyakan merupakan pendatang dari daratan asia tenggara dan menyebarkan kebudayaan yang mereka kuasai.

Selain menguasai teknik pembuatan alat dari perunggu, masyarakat tersebut juga menguasai teknik persawahan basah. Masyarakat atau manusia pendukung zaman logam ini berasal dari pendatang Dong Son atau sekarang disebut vietnam.

Masyarakat Deutro Melayu merupakan nenek moyang dari suku Jawa, Bali, Bugis, Madura dan lain sebagainya. Pada masa ini, masyarakat Deutro Melayu juga berbaur dengan Melayu Mongoloid yaitu Proto dan Deutro Melayu dan penduduk Austro Melanesoid.

Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya rangka manusia berciri-ciri Melayu Mongoloid dan Austro Melanesoid di Jawa, Sulawesi, Sumba dan Timor.

Sebagai gambaran, berikut ini ciri-ciri masyarakat Proto Melayu, antara lain:

  • Masyarakat Proto Melayu ini berasal dari Cina atau Tiongkok Selatan yaitu dari daerah Yunan
  • Masyarakat ini mulai masuk ke Indonesia antara tahun 1500 hingga 500 sebelum masehi
  • Masyarakat ini singgah di beberapa daerah di Indonesia Timur seperti Papua, Dayak, Nias, Mentawai dan Toraja
  • Kebudayaannya meliputi neolitikum atau zaman batu muda
  • Ciri-ciri fisiknya meliputi: kulit berwarna kuning kecokelatan, mata sipit dan rambut lurus

Sedangkan ciri-ciri masyarakat Deutro Melayu, antara lain:

  • Masyarakat Deutro Melayu berasal dari daerah Indochina bagian utara seperti Kamboja, Laos dan Vietnam
  • Masyarakat ini masuk ke wilayah Indonesia di tahun 500 sebelum masehi
  • Keturunannya meliputi suku-suku berikut ini: Bugis, Jawa, Sunda, Minang dan makassar
  • Masyarakat Deutro Melayu sudah menguasai kebudayaan logam dan dapat membuat alat-alat dari perunggu maupun besi

Teknologi Zaman Logam

Kapak corong merupakan peninggalan zaman logam yang paling terkenal di antara yang lainnya. Pada zaman ini terdapat dua macam teknik pembuatan kapak corong atau kapak sepatu, yaitu:

1. Teknik Bivalve atau Teknik Setangkup

Teknik bivalve ini disebut juga teknik setangkup dikarenakan pembuatannya dilakukan dengan cara menangkupkan dua bagian batu kemudian diisi cairan logam.

Cetakan tersebut terdiri dari dua bagian dan biasanya berbahan dasar batu. Sedangkan langkah-langkahnya seperti di bawah ini:

  • Cetakan tersebut diikat terlebih dahulu lalu dituang cairan perunggu ke dalam rongga cetakan
  • Kemudian tunggu hingga cetakan dingin dan menjadi beku
  • Setelah itu, cetakan akan dapat dilepas dan terbentuklah hasil cetakan berupa kapak corong 

2. Teknik A Cire Perdue atau Teknik Cetak Lilin

Teknik yang kedua adalah teknik a cire perdue atau disebut juga teknik cetak lilin karena bahan dasarnya dari tanah liat dan lilin. Langkah pembuatannya seperti berikut ini:

  • Pertama-tama, membuat model benda atau alat yang ingin dibuat dengan menggunakan lilin atau sejenisnya
  • Setelah itu, benda tersebut dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang
  • Kemudian melalui proses pembakaran sehingga lilin pun meleleh dan bungkusan tanah liat menjadi kosong tak berisi
  • Nah, hasil pembakaran tanah liat yang isinya kosong inilah yang dijadikan sebagai cetakan
  • Isilah cetakan tanah liat dengan cairan perunggu
  • Setelah cairan tersebut dingin dan menjadi beku, barulah tanah liat dibersihkan atau dibuang dan akan dihasilkan benda/alat perunggu sesuai dengan cetakan

Kehidupan Masyarakat Zaman Logam

Kehidupan masyarakat zaman logam ini tidak lepas dari kedatangan bangsa Melayu Austranesia yang berasal dari Yuanan Selatan tahun 300 tahun sebelum masehi.

Selain itu, juga dipengaruhi oleh pendatang gelombang kedua yaitu pendatang Melayu dari Dong Son atau Vietnam yang lebih maju.

Nah, itulah sekilas penjelasan tentang zaman logam meliputi pengertian, ciri-ciri, peninggalan dan hasil kebudayaannya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.