25 Sifat, Karakter dan Kebiasaan Orang Betawi + Adat istiadat dan Budaya

Suku Betawi merupakan suku asli atau penduduk lokal Jakarta dan sekitarnya. Tentu saja menarik mengetahui bagaimana karakter, kebiasaan, hingga budaya dan adat istiadatnya. Saat ini masyarakat Betawi sudah berbaur sempurna dengan kaum pendatang dari berbagai daerah.

Memang, Jakarta yang notabene tanah kelahiran mereka menjadi tempat banyak suku dalam mengais rejeki dan impiannya. Jadi tak ada salahnya mengenal bagaimana uniknya budaya suku lokal ibu kota ini. Berikut ulasannya.

1. Terkenal Religius

Kesan pertama ketika bertemu hingga bergaul dengan orang Betawi yakni lekat dengan islam. Kehidupan masyarakat Betawi memang tak jauh dari kegiatan-kegiatan religius. Mulai dari pengajian, ritual dan tradisi yang bernafaskan islam, dsb.

Mayoritas orang Betawi memang menganut agama Islam. Tak heran jika kita akan sering mendapati pengajian mingguan, bulanan, madrasah, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Bahkan kesenian marawis, rebana, hadroh, hingga qasidah juga tak jauh dari nuansa islami.

2. Juragan Tanah dan Jago Berdagang

Memang tidak semua orang Betawi itu juragan tanah dan pedagang. Namun kedua label tersebut memang sudah melekat penuh pada jati diri masyarakat Betawi. Sebenarnya hal ini didasari juga oleh daerah Jakarta yang notabene menjadi ibu kota Indonesia. Karena sebagai penduduk lokal, tak heran jika orang-orang Betawi menjadi pemilik sebagian besar lahan di Jakarta.

Maka tak heran sebutan juragan tanah umumnya tak lepas dari masyarakat Betawi. Selain mayoritas memiliki banyak tanah, umumnya orang Betawi juga pandai dalam berdagang. Hal ini tak lepas dari posisi Jakarta yang dulu hingga sekarang menjadi daerah perdagangan internasional.

3. Rata-rata Berkeluarga Besar

Dulunya, banyak keturunan Betawi yang condong dengan kutipan “banyak anak banyak rezeki”. Memang, suku Betawi rata-rata memiliki banyak anak. Bahkan hal ini sampai menurun ke keturunan-keturunannya.

Hal tersebut sudah berlangsung begitu lama dan turun-temurun. Namun saat ini, tak semua orang Betawi masih menganut paham banyak anak banyak rezeki. Ada pula keturunan Betawi yang cukup dengan 2-3 anak saja.

4. Prosesi Berbagai Perayaan yang Panjang

Betawi begitu dikenal dengan berbagai prosesi adatnya yang panjang. Tak terkecuali untuk acara kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Sejak di dalam kandungan, calon bayi sudah diikutkan dalam acara empat bulanan, tujuh bulanan, hingga aqiqah.

Kemudian ketika menikah, prosesi ritualnya cukup panjang. Untuk lamaran saja akan berlangsung minimal dua kali. Pertama ketika keluarga mempelai pria meminta ke keluarga wanita. Kemudian keluarga mempelai wanita mengadakan kunjungan balasan.

Untuk upacara kematian, sebenarnya orang Betawi hampir sama dengan orang Jawa. Mereka mengenal upacara tahlilan 7 hari, 14 hari, 40 hari, 100 hari, haul, hingga 1000 hari.

5. Tradisi Silaturahmi dengan Cara Arisan

Dalam lingkungan Betawi, silaturahmi sudah menjadi budaya yang hingga saat ini masih dijalankan. Lazimnya, tradisi silaturahmi ala Betawi dilakukan dengan cara arisan. Arisan yang dimaksud adalah arisan yang diselenggarakan oleh keluarga besar.

Misalnya arisan yang diselenggarakan oleh keturunan keluarga Rojali atau Bani Rojali. Dalam arisan tersebut, biasanya satu keluarga kecil akan memiliki minimal empat kelompok arisan. Yaitu arisan dari orangtua pihak ibu dan arisan dari orangtua pihak ayah. 

6. Panjangnya ‘Ritual’ Silaturahmi Lebaran

Kembali lagi ke budaya silaturahmi yang sudah turun-termurun diemban masyarakat Betawi, nampaknya hal ini juga berlaku saat lebaran. Umumnya silaturahmi lebaran dilakukan maksimal 7 hari. Namun bagi masyarakat Betawi, perayaan dan silaturahmi lebaran lebih panjang.

Bahkan silaturahmi akan terus dilakukan sebelum hari raya di tahun berikutnya datang lagi. Dalam silaturahmi, tak ketinggalan mereka membawa hantaran yang pantas dan meruntut mana yang harus dikunjungi lebih dahulu.

7. Masih Menggunakan Bahasa Betawi dalam Aktivitasnya

Bahasa Betawi hingga saat ini masih digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini akan memudahkan kita membedakan antara orang Betawi dan pendatang di ibu kota. Bahasa Betawi menggunakan bahasa Melayu. Namun dialeknya berdasarkan Melayu Jakarta.

Dialek bahasa Betawi juga tidak membingungkan. Karena hampir sama dengan Bahasa Indonesia. Hanya saja ada perbedaan pada huruf baca seperti “e” menjadi “a”. Namun untuk berbicara dengan suku lain, orang Betawi tetap menggunakan bahasa Indonesia.

8. Tari Cokek

Tari cokek merupakan salah satu tarian tradisional Betawi yang saat ini hampir punah. Tarian yang kerap ditampilkan di acara pernikahan ini memiliki tampilan unik. Penarinya menggunakan pakaian dengan warna-warna cerah dan menarik. Tak ketinggalan alunan gambang kromong turur mengiringi tiap gerakan para penarinya.

9. Lenong

Lenong atau teater tradisional masih ditampilkan di beberapa kesempatan. Bahkan beberapa artis ibu kota lahir dari teater lenong. Misalnya almarhum Olga Syahputra, Cika Waode, Oki Lukman, dll.

Dalam pertunjukannya, kesenian lenong menggunakan bahasa Betawi. Iringan gendang, gambang, gong, dan alat musik tradisional lainnya juga tak ketinggalan menyemarakan suasana. Cerita lenong umumnya berisi banyak pesan moral serta pantun yang mengocok perut.

10. Ondel-ondel

Ondel-ondel merupakan boneka raksasa setinggi 2,5 meter. Umumnya boneka raksasa tersebut ditampilkan sepasang dengan warna yang mencolok. Dulunya ondel-ondel digunakan sebagai pelindung anak-anak maupun desa.

Dan sekarang, kesenian tradisional Jakarta ini ditampilkan dalam acara pernikahan, khitanan, bahkan pagelaran ulang tahun Jakarta.

11. Wayang Kulit Betawi

Tak hanya di tanah Jawa, wayang kulit juga dimiliki oleh Betawi. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan satu ini menggunakan bahasa Betawi. Ceritanya pun kebanyakan berisi tentang pesan moral dan budaya Jakarta.

Bagi masyarakat luar Betawi, sebenarnya tidak begitu sulit memahami bahasa di wayang kulit Betawi. Sebab bahasanya lebih mudah dipahami karena mirip dengan bahasa Indonesia.

12. Pencak Silat Betawi

Pencak silat tak bisa jauh dari kebiasaan masyarakat Betawi. Banyak orang Betawi di zaman dahulu yang menguasai seni bela diri ini. Bahkan di acara temu pengantin, peragaan seni pencak silat kerap ditampilkan.

Saat ini pun budaya pencak silat terus diajarkan bahkan sejak dini. Tujuannya agar tidak surut generasi muda yang menguasai ilmu bela diri ini.

13. Menjunjung Tinggi Sopan Santun

Masyarakat Betawi dikenal dengan sopan santunnya yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan mereka mencium tangan orang yang lebih tua ketika pulang atau pergi dari rumah. Ketika berkunjung ke tempat saudara pun tak ketinggalan sopan santun selalu mereka emban.

14. Rumah Kebaya

Rumah Kebaya merupakan rumah adat suku Betawi. Desainnya sangat sederhana dengan fungsinya yang minimalis untuk dihuni keluarga. Zaman dahulu memang tidak terlalu mementingkan sisi mewah sebuah rumah, asalkan sudah berfungsi baik berarti sudah cukup. Termasuk dalam filosofi Rumah Kebaya.

Sekarang rumah tradisional Betawi sudah banyak direhab atau bahkan diganti dengan desain yang lebih modern. Namun anda bisa melihat penampakan Rumah Kebaya asli di museum Jakarta.

15. Senjata Tradisional Golok/Bendo

Saat memainkan pencak silat, tampak pemainnya membawa senjata berupa golok. Golok atau bendo memang merupakan senjata tradisional Betawi. Sebenarnya makna senjata tersebut tak hanya sebagai ajang untuk unggul dari lawan. Melainkan lebih dekat dengan fungsi utamanya.

Sebab masyarakat Betawi dulu sangat senang berternak dan mencari pakan ternak. Dan untuk mencari pakan ternak hingga melakukan berbagai aktivitas lainnya, golok digunakan dan sampai sekarang menjadi senjata tradisional suku tersebut.

16. Tidak Suka Merantau

Berbeda dengan suku Padang atau Jawa, suku Betawi memiliki masyarakat yang tidak suka merantau. Banyak faktor yang mempengaruhi kebiasaan tersebut. Mulai dari ekonomi hingga rasa kekeluargaannya yang erat.

Masyarakat Betawi lebih suka bekerja di wilayahnya sendiri. Posisi Jakarta yang notabene menjadi ibu kota negara juga mendukung sehingga jarang orang Betawi yang merantau.

17. Toleransi Tinggi

Kebudayaan Betawi sebenarnya memiliki campuran dari sejumlah kebudayaan bangsa lain. Selain Melayu, kebudayaan dari Cina, Arab, hingga Eropa terserap dalam satu budaya bernama Betawi.

Kita bisa melihat dari bagaimana bentuk pakaian adat, rumah, hingga keseniannya. Tak berlebihan jika menilai suku Betawi sebagai suku yang menjunjung toleransi. Posisi Jakarta yang menjadi ibu kota juga menghadirkan banyak suku, ras, dan agama.

Dengan toleransi tinggi yang dimiliki masyarakat Betawi, tentu saja kerukunan antar masyarakat di Jakarta dan sekitarnya dapat terjalin.

18. Senang Berbagi dengan Sesama

Suku Betawi dikenal dengan masyarakatnya yang royal berbagi. Sifat religius yang kental pada kebanyakan masyarakat Betawi membuat mereka gemar berbagi. Kita bisa melihatnya dari budaya silaturahmi yang begitu dipegangnya.

Selain gemar berbagi, orang Betawi juga terbilang suka bergaul dan bercakap-cakap. Meskipun dialek bahasanya dinilai keras oleh suku lain, namun nyatanya ada sifat halus di balik dialek yang terdengar keras.

19. Dialek Bahasa Betawi yang Unik

Jika dalam Bahasa Indoesia semua kata terdengar lebih santai, maka berbeda dengan bahasa Betawi. Umumnya kata yang memiliki akhiran “a” akan diganti menjadi “e”. Hal inilah yang membuat aksen Betawi terdengar unik.

Berbeda dengan dialek bahasa lain, umumnya orang luar Betawi akan lebih mudah menirukannya karena dialek dan aturan bahasanya lebih sederhana.

20. Bahasa Betawi Digunakan di Kesenian Betawi

Bahasa Betawi tak hanya digunakan sehari-hari oleh sesamanya. Namun kita bisa melihatnya di kesenian-keseniannya. Misalnya dalam acara lenong, wayang kulit Betawi, lagu, hingga pantun-pantun khas Betawi.

Uniknya, masyarakat yang bukan asli Betawi akan dengan mudah memahami bahasa tersebut. Sebab, kosakatanya hampir mirip dengan bahasa Indonesia. Hanya dialeknya saja yang berbeda.

21. Tegas dan Penyayang

Sifat tegas memang sudah melekat pada jati diri orang Betawi. Masyarakat Betawi dikenal sebagai sosok yang tegas dan berpendirian kuat. Dari bahasanya saja sudah jelas bagaimana karakter orang Betawi.

Meskipun dikenal tegas bahkan galak, sebenarnya mereka memiliki hati yang penyayang terhadap orang-orang di sekitarnya.

22. Makanan Tradisionalnya Tak Kalah Populer dari Daerah Lain

Nasi Padang, Nasi Liwet, Cilok, merupakan makanan khas daerah yang sudah populer di seluruh Indonesia. Betawi pun memiliki makanan tradisional yang tak kalah populernya. Sebut saja kerak telor, nasi uduk, semur jengkol, hingga sayur asem.

Makanan-makanan tersebut tentu sudah akrab di telinga kita. Jadi tak hanya dikenal dari bahasa dan sifatnya, suku Betawi juga kaya akan makanan yang begitu lezat.

23. Identik dengan Kopyah dan Peci

Dalam aktivitas sehari-hari, masyarakat Betawi laki-laki tak lepas dari yang namanya kopyah atau peci. Meskipun dulunya hanya digunakan pada saat solat, namun saat ini peci dan kopyah digunakan untuk aktivitas di luar solat.

Bahkan beberapa presiden terdahulu mengenakan kopyah hitam dalam kunjungan kenegaraan. Mulai dari Ir. Soekarno, Soeharto, hingga Susilo Bambang Yudhoyono kerap menggunakan kopyah dalam aktivitasnya sebagai presiden.

24. Baju Sadariah

Baju Sadariah dikenal juga dengan sebutan baju koko. Jenis pakaian satu ini memiliki warna polos yang melambangkan kesucian dari pemakainya. Umumnya koko digunakan bersama dengan selendang yang dibuat dari sarung.

25. Kerudung dan Baju Kurung

Baju kurung dan kerudung adalah dua hal yang tak lepas dari pakaian tradisional wanita Betawi. Dari pakaian tradisional tersebut bisa kita simpulkan bahwa kebudayaan suku satu ini tak lepas dari pengaruh islam.

Umumnya warna kerudung dan baju kurung memiliki dominasi yang mencolok. Namun tetap enak dipandang. Kita bisa melihat baju kurung dan kerudung digunakan dalam ajang pemilihan Abang dan None Jakarta.

Demikian sejumlah ulasan tentang sifat, karakter, hingga budaya Betawi yang menarik kita simak. Semoga makin menambah pengetahuan kita akan kekayaan yang dimiliki oleh suku asli ibu kota ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.