25 Kebiasaan Orang Bali, Karakter, Adat Istiadat dan Budayanya

Karakter dan kebiasaan orang bali

Memiliki kondisi alam yang begitu luar biasa memang membuat Bali begitu terkenal sebagai destinasi wisata. Bahkan pamornya sudah lama melekat di kalangan turis asing. Namun tak hanya dikenal dengan alamnya, ternyata di mata pelancong, kebiasaan, karakter, hingga budaya orang Bali juga sangat memukau.

Bahkan karena sangat menarik, citra positif Bali juga sangat melekat berkat karakter-karakter masyarakatnya yang terkenal baik dan ramah. Apa saja kebiasaan hingga adat istiadat orang Bali yang membuat banyak orang jatuh cinta? Berikut uraian lengkapnya.

1. Murah Senyum

Orang Bali terkenal sebagai pribadi yang murah senyum. Sebenarnya tak hanya di Bali, sikap murah senyum juga dimiliki oleh masyarakat daerah lain. Namun karena turis yang datang ke Pulau Dewata lebih banyak, maka kebanyakan wisatawan mancanegara menganggap orang Bali dan seluruh masyarakat Indonesia memiliki sikap ramah dan murah senyum.

2. Sepi Saat Nyepi

Satu tahun sekali terdapat hari raya Nyepi bagi umat Hindu. Karena mayoritas penduduk Pulau Dewata adalah Hindu, tentu saja perayaannya lebih terasa. Pada saat nyepi, semua akan benar-benar sepi. Mulai dari rumah, jalanan, perkantoran, pasar, bahkan tempat wisata.

Umat Hindu Bali tidak keluar rumah dan beraktivitas ketika Nyepi. Bahkan ada polisi adat yang memantau agar perayaan tersebut berlangsung tertib.

3. Ritual Keagamaan Setiap Hari

Khusus umat hindu di Bali, ritual keagamaan adalah hal wajib yang harus dilaksanakan sehari-hari. Hampir tiap hari ada saja yang melakukan ritual. Baik di rumah maupun di pura. Tak heran jika pura akan selalu ramai pengunjung tiap hari.

Bahkan pemandangan pria dan wanita hindu Bali yang membawa baki sesajen bisa anda lihat setiap harinya.

4. Takut Tidur

Takut tidur sebenarnya bukan berarti memiliki makna yang sebenarnya. Istilah ini lebih mengarah pada mereka yang tiba-tiba tertidur pulas untuk menghilangkan rasa takut atau stress. Masyarakat Bali rata-rata memiliki kebiasaan satu ini.

Bahkan hal tersebut pernah dimuat di koran luar negeri. Seperti di Huffington Post dan Times. Kebiasaan takut tidur ini bahkan tidak bisa ditemukan di tempat lain.

5. Rata-rata Memiliki Nama yang Sama

Made, Ketut, Nyoman, Wayan, I Gede, dll merupakan nama-nama khas Bali. Anda akan banyak menemukan orang dengan nama-nama demikian di pulau Dewata. Hal ini disebabkan karena kebiasaan orang Bali dalam memberikan nama kepada anak-anaknya.

Untuk anak pertama umumnya dinamai Wayan. Anak kedua Made, anak ketiga Nyoman, dan anak keempat Ketut. Namun nama-nama tersebut biasanya disematkan hanya untuk para pria.

6. Upacara Potong Gigi

Upacara potong gigi di Bali dilakukan dengan cara memotong atau mengikir gigi taring. Kebiasaan ini bermaksud untuk menghilangkan sifat buas dari diri seseorang. Upacara tradisional ini memiliki sebutan Mepandes atau Matatah.

Namun tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya remaja yang usianya menginjak dewasa yang bisa melakukan ritual ini.

7. Menyukai Seni

Ketika menjelajah Pulau Dewata, anda tentu tidak akan sulit menemukan patung, ukiran, lukisan, dan berbagai karya seni lainnya. Hampir di setiap sudut Bali kita jumpai aneka karya seni. Hal ini sudah cukup menjadi bukti derasnya darah seni yang mengalir pada mayoritas penduduk Bali.

Tak hanya karya seni, orang Bali juga dikenal pandai menari dan bermain musik. Berbagai perhelatan seni tari bisa dengan mudah kita jumpai di seantero Bali. 

8. Rumah Disulap jadi Penginapan

Sebagai destinasi yang banyak dilirik turis dari dalam dan luar negeri, tak heran jika mayoritas rumah di Bali juga disulap menjai penginapan. Bahkan jika ada turis yang tidak mendapat tempat menginap, mereka bisa mengetuk pintu rumah warga sekitar. Dengan senang hati warga sekitar akan menyediakan kamar untuk menginap.

9. Pemakaman Trunyan

Dikubur atau dikremasi merupakan cara paling umum dalam memperlakukan sebuah jenazah. Namun di desa Trunyan, Kintamani, jenazah tidak dikubur atau dikremasi. Melainkan diletakkan begitu saja di dekat sebauh pohon Taru Menyan. Pohon tersebut memang tumbuh di sekitar desa tersebut dan mengeluarkan aroma yang sangat harum.

Karena berbeda, banyak pula turis yang senang berkunjung ke daerah Trunyan. Tidak perlu khawatir karena keamanan dan kenyamanan tetap terjaga selama berkunjung ke kawasan tersebut.

10. Ritual Kesurupan Masal

Kesurupan masal bukanlah hal asing di Bali. Biasanya jika ada kesurupan masal karena adanya ritual yang dilakukan pada perayaan kuningan. Ritual tersebut cukup terkenal di Bali, terutama di Pura Petilan Kasiman.

11. Menganggap Tamu adalah Raja

Tamu dianggap sebagai raja yang berkunjung sehingga harus dilayani sepenuh hati. Begitulah apa yang diyakini oleh rata-rata orang Bali. Mindset tersebut sudah terbentuk sejak zaman dahulu dan masih dipegang sampai sekarang.

Tak heran jika dalam bergaul dengan orang asing atau menyambut tamu, mereka sangat ramah dan baik hati. Hal ini pula yang membuat citra masyarakat Bali begitu positif di kalangan turis.

12. Jago Bahasa Inggris

Konsep learning by doing yang sukses bisa kita lihat dari masyarakat Bali. Terutama yang tinggal di dekat kawasan wisata. Mereka rata-rata bisa berbahasa Inggris karena bergaul dengan turis mancanegara.

Karena belajar secara langsung, tak heran jika mayoritas bisa cepat jago dalam berbicara bahasa Inggris. Bahkan tak sedikit yang kemudian berprofesi menjadi pemandu wisata khusus turis asing. 

13. Menjunjung Tinggi Adat dan Budaya

Selain lekat dengan image religius, masyarakat Bali juga terkenal dengan adat dan budayanya yang kental. Kita bisa mendapati sebagian rumah-rumah di Bali dilengkapi dengan pura, patung, dan berbagai kelengkapan adat lainnya.

Pakaian seperti kebaya, kain, udeng, dikenakan dalam keseharian. Hal ini tak lepas dari rasa solid masyarakat Bali dalam menjunjung tinggi budaya dan adatnya. Bahkan saking solidnya, terdapat pemangku adat di tiap daerah Bali.

14. Mudah Akrab

Sifat mudah akrab bisa dengan mudah dijumpai pada diri orang Bali. Mereka sangat gemar bercengkrama dan menyapa siapapun. Bahkan tak asing mereka mampu bercengkrama dengan turis asing meskipun keterbatasan bahasa.

Dari sikap mudah akrabnya ini juga membuat banyak turis berkeinginan datang dan kembali lagi berlibur ke pulau Dewata.

15. Selalu Siap Menjadi Guide

Karena daerahnya menjadi favorit wisata para turis, banyak orang Bali yang berbakat menjadi pemandu wisata. Mereka akan selalu siap menjadi pemandu baik bagi turis dalam maupun luar negeri. Pemandu dari penduduk lokal tentu lebih menguntungkan turis karena pastinya lebih paham dan terkenal ramah.

16. Selalu Menjaga Alam

Konsep Karma Phala sudah lama diemban oleh masyarakat Bali. Mereka percaya bahwa apa yang ditanam maka akan sama dengan apa yang dituai nanti. Tak heran dengan konsep ini membuat masyarakat Bali begitu menjaga alam sekitarnya. Mereka percaya bahwa alam adalah warisan leluhur yang harus dijaga agar alam pun menjaga mereka.

Kita bisa mendapati sejumlah desa-desa di Bali masih terjaga keindahan alamnya. Bahkan udara dan tumbuhan-tumbuhannya masih sangat sehat karena jauh dari polusi dan kerusakan.

17. Memiliki Banyak Ritual Unik

Dikenal religius, masyarakat Bali yang mayoritas Hindu juga tak lepas dari berbagai macam ritual. Bahkan ritual-ritualnya kebanyakan unik-unik bagi kita yang baru pertama kali melihatnya. Misalnya ritual ngejot, mesaiban, ngaben, dan berbagai ritual persembahyangan.

Bahkan ritual-ritual tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri di kalangan para turis. Baik dalam maupun luar negeri.

18. Ngaben

Ngaben merupakan upacara pembakaran mayat/kremasi yang dilakukan masyarakat Hindu Bali. Tradisi ini dilakukan besar-besaran. Memang pada intinya adalah mengkremasikan jenazah. Namun terdapat berbagai ritual dan sarana pendukung upacara yang cukup rumit. Tak heran jika upacara satu ini memerlukan biaya yang cukup besar.

Meskipun merupakan upacara keagamaan, namun tradisi Ngaben juga banyak menarik minat wisatawan. Terutama wisatawan mancanegara.

19. Kerap Membungkus Pohon Besar dengan Kain

Banyak pohon-pohon besar di Bali yang dibungkus dengan kain. Hal ini menandakan kepercayaan masyarakat Bali bahwa di pohon besar atau pohon tertentu terdapat alam lain.

Adanya pohon besar yang dibungkus kain juga sebagai tanda jika orang yang melintas di sekitarnya harus hormat dan tidak boleh melakukan hal sembarangan.

20. Penjor saat Galungan dan Piodalan

Selain Nyepi, hari raya lain umat hindu khususnya di Bali adalah Galungan. Pada saat perayaan Galungan, kita akan melihat dekorasi berupa penjor yang dipasang di halaman rumah. Penjor ternyata tak hanya sebagai hiasan, melainkan memiliki makna yang sakral.

Tak hanya saat Galungan, ketika Piodalan pun akan terpasang penjor dimanapun. Hal ini memang tampak kontras dengan perayaan Nyepi yang sunyi.

21. Memiliki Sebutan kata “Bli”

Penyebutan “Bli” dalam bahasa Bali berarti kakak. Atau kata tersebut juga bisa dijadikan sebagai sapaan. Kebiasaan memanggil dengan sebutan Bli sudah umum dilakukan. Namun meskipun sudah biasa, penyebutan tersebut juga tidak bisa disematkan ke sembarang orang.

Sebab masih ada sapaan berdasarkan kasta seperti Gusti, Cokorde, Ida Bagus, hingga Anak Agung.

22. Selalu Mengenakan Pakaian Adat

Pakaian adat tidak akan lepas dari kebiasaan masyarakat Bali. Uniknya di tiap upacara pakaian adatnya akan berbeda. Pakaian adatnya akan tampak berbeda di berbagai perayaan. Mulai dari ngaben, pernikahan, pertemuan, hingga persembahyangan.

Umumnya masyarakat Bali perempuan masih gemar mengenakan kebaya dan kain. Sedangkan pria gemar mengenakan ikat kepala.

23. Gemar Memberikan Selendang ke Para Turis

Kebiasaan orang Bali yang memberikan selendang kepada turis dilakukan bukan tanpa alasan. Biasanya hal ini dilakukan di tempat-tempat yang dianggap suci. Seperti pura, pemakaman, dll. Sebab syarat untuk masuk ke tempat tersebut harus menggunakan pakaian adat.

Selendang dinilai sebagai pakaian adat ringan yang harus dikenakan setiap pengunjung yang masuk.

24. Tradisi Megibung

Megibung merupakan tradisi yang dulu dicontohkan pertama kali oleh I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem, Raja Karangasem I pada tahun 1614. Tradisi tersebut adalah makan bersama sambil duduk dan bertukar pikiran. Tak hanya masyarakat Hindu yang melakukannya, makan bersama ini juga dilakukan oleh masyarakat Islam dan agama lain di Bali.

Megibung dilakukan sebelum para tamu pulang. Para tamu diajak makan sebagai tanda keakraban dan kekeluargaan. Dalam praktekknya, tamu akan duduk melingkar sebanyak 5-8 orang. Tiap lingkaran dipimpin pepara yang tugasnya menuangkan nasi dan lauk pauk.

25. Mensucikan Sapi

Mayoritas penduduk Bali memang memeluk agama Hindu. Dalam ajaran Hindu, sapi adalah binatang yang disucikan. Menurut pemeluk agama Hindu, sapi merupakan lambang dari ibu pertiwi yang dapat memberikan kesejahteraan ke pada semua makhluk hidup di bumi.

Maka dari itu menyembelih dan memakan daging sapi adalah hal yang dilarang. Orang hindu khususnya di Bali memperlakukan sapi secara istimewa. Namun perlakuan tersebut bukan berarti memuja sapi, namun sebagai tindakan menghormati hewan tersebut.

Tak hanya dikenal dengan tempat wisatanya yang indah. Ternyata karakter hingga budaya orang Bali begitu memukau. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.