Perjanjian Roem Royen | Latar Belakang, Sejarah, Hasil, Isi & Dampaknya

Sejarah Perjanjian Roem Royen picture

Sejarah panjang Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan negara tidak lepas dari beberapa perjanjian penting. Perjanjian-perjanjian ini menjadi bagian perjuangan dalam bentuk diplomasi.  

Salah satu perjanjian yang terjadi pada masa ketika Belanda melakukan agresi militer adalah Perjanjian Roem Royen. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai perjanjian tersebut adalah sebagai berikut.

Sejarah Perjanjian Roem Royen

Seperti telah disebutkan bahwa Perjanjian Roem Royen merupakan perjanjian yang diadakan oleh Indonesia dan Belanda untuk membahas soal wilayah Indonesia.

Nama perjanjian ini sendiri diambil dari nama kedua pemimpin delegasi dari masing-masing pihak yang terlibat.

‘Roem’ diambil dari nama pemimpin delegasi Indoensia yang bernama Mohammad Roem, sedangkan ‘Royen’ diambil dari nama pemimpin delegasi Belanda yaitu Herman Van Royen.

Oleh sebab itu selain dikenal sebagai Perjanjian Roem Royen, kadang juga disebut sebagai Perjanjian Roem – Van Royen.

Pelaksanaan perjanjian yang berlangsung dari Bulan April hingga Mei ini bermaksud untuk menyelesaikan perseteruan yang terjadi antara Indonesia dan Belanda.

Waktu terjadinya agresi militer sendiri adalah setelah bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan, sehingga pada dasarnya perjanjian ini tidak lepas dari upaya mempertahankan kemerdekaan.

Dalam pelaksanaannya, perjanjian ini sempat dihentikan, karena tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Penyebabnya adalah pihak Belanda menyatakan akan kembali memulihkan kondisi pemerintahan apabila Indonesia bersedia untuk mengeluarkan perintah gencatan senjata terhadap perlawanan yang terjadi.

Akan tetapi kondisi pemimpin dan tokoh-tokoh Indonesia yang saat itu sedang berpencar-pencar mengakibatkan ketidakmampuan untuk melaksanakan keingan Belanda.

Apalagi saat itu pihak Amerika kembali memberikan tekanan, bahkan ancaman kepada Belanda, sehingga perjanjian kembali dilanjutkan pada tanggal 1 Mei 1949

Waktu dan Tempat Perjanjian Roem Royen

Perjanjian Roem Royen adalah perjanjian yang terjadi antara Indonesia dan Belanda. Waktu perjanjian tersebut berlangsung yaitu mulai dibuka pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya melahirkan suatu perjanjian sekaligus ditutup pada tanggal 7 Mei 1949.

Tempat pelaksanaan perjanjian ini adalah di Hotel Des Indes, Jakarta.

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen

Latar belakang terjadinya Perjanjian Roem Royen dimulai ketika Belanda melakukan agresi militer terhadap Negara Indonesia. padahal waktu itu Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan.

Seragan yang terjadi berlangsung di Yogyakarta dan juga berakhir pada penahanan beberapa pemimpin dari Indonesia.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Pihak Belanda melancarkan aksinya dengan melakukan propaganda yang menyatakan bahwa kondisi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah hancur, karena dikalahkan oleh pasukan Belanda.

Akan tetapi proganda yang dilakukan Belanda tersebut justru memperoleh kecaman dari pihak internasional. Salah satu negara yang mengecam Belanda saat itu adalah Amerika Serikat.

Akibatnya kondisi antara Belanda dan Indonesia makin panas, serta semakin diperparah dengan kecaman internasional. Akhirnya PBB mengambil peran sebagai penengah melalui UNCI yang merupakan Komisis Khusus PBB untuk Indonesia.

Tokoh Perjanjian Roem Royen

Perjanjian Roem Royem menghadirkan tokoh-tokoh sebagai delegasi dari Indonesia dan Belanda. Selain itu ada juga tiga utusan dari PBB yang menjadi penengah yang diketuai oleh Merle Cochran dari Amerika Serikat, Herremans dari Belgia, dan Critchley dari Australia.

Adapun tokoh dan pimpinan yang menjadi delegasi dari kedua pihak yang berunding tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tokoh dari Delegasi Indonesia

Delegasi dari pihak Indonesia dikepalai oleh Mohammad Roem, sementara itu tokoh-tokoh yang banyak mengambil peran serta dalam perundingan tersebut antara lain Moh. Hatta, Sri Sulran Hamengkubuwono IX, Ir. Juanda, Ali Sastroamijoyo, Dr. Leimena, Prof. Supomo, dan juga Latuharhary.

2. Tokoh dari Delegasi Belanda

Delegasi dari pihak Belanda dikepalai oleh Dr. J. H. Van Royen beserta beberapa tokoh penting yang turut serta mengambil bagian seperti dr. Van, Blom, Jacob, Dr. Gieben, dr. Gede, dan juga Van Hoogstratendan.

Isi Perjanjian Roem Royen

Perjanjian Roem Royen yang pada akhirnya disepakati oleh kedua belah pihak dalam hal ini Indonesia dan Belanda pada tanggal 7 Mei 1949 memuat beberapa poin. Poin-poin tersebut merupakan hasil pengajuan dari masing-masing pihak yang telah disetujui dan disepakati bersama.

Adapun isi Perjanjian Roem Royen adalah sebagai berikut:

  1. Aktivitas gerilya yang selama ini dilakukan Angkatan bersenjata Republik Indonesia harus dihentikan.  
  2. Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB)
  3. Pengembalian pusat pemerintahan Republik Indonesia ke wilayah sebelumnya yaitu Yogyakarta.
  4. semua operasi militer yang dilakukan oleh Angkatan bersenjata Belanda akan dihentikan dan semua tahanan perang dan politik akan dibebaskan.
  5. Belanda setuju Republik Indonesia sebagian bagian dari Negara Indonesia Serikat
  6. Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat
  7. Belanda memberikan semua hak, kekuasaan dan kewajiban kepada Indonesia
  8. Belanda dan Indonesia sepakan untuk mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan persamaan hak

Dampak Perjanjian Roem Royen

Ada banyak sekali dampak besar yang ditimbulkan dari Perjanjian Roem Royen antara Belanda dan Indonesia. salah satunya yang paling terasa adalah gencatan senjata antara kedua belah pihak.

Meskipun begitu pihak TNI sebenarnya kurang setuju dengan keputusan perjanjian dan justru menaruh curiga kepada Belanda. Menurut TNI, keputusan dari Perjanjian Roem Royen pada dasarnya tidak memberi keuntungan bagi Indonesia, malah hanya akan berdampak buruk.

Akan tetapi TNI diperintahkan untuk bisa membedakan gencatan senjata demi militer dan politik. Akirnya pihak TNI mengalah, karena lebih memprioritaskan kondisi bangsa Indonesia.

Selain itu dampaknya juga menyulut pihak Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) untuk menyerahkan mandat kembali dari Sjafruddin Prawiranegara sebagai presiden PDRI kepada Ir. Soekarno.

Akan tetapi yang pasti menjadi dampak besar dari perjanjian ini adalah pelaksanaan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Pelanggaran Perjanjian Roem Royen

Pelanggaran Perjanjian Roem Royen dilakukan oleh pihak Belanda. Meskipun setelah perjanjian berlangsung dan Konferensi Meja Bundar, Indonesia dinyatakan sebagai Republik Indonesia Serikat, akan tetapi pihak Belanda rupanya masih mengambil celah.

Diketahui bahwa negara bagian yang berjumlah 16 saat itu diciptakan secara sepihak oleh Belanda. Padahal seharusnya Belanda tidak ikut campur sekalipun masih memiliki hubungan dengan Indonesia.

Begitulah perjanjian Roem Royen terjadi. Tentu sebagai bagian dari proses membangun bangsa, kita tak boleh melupakan sejarah panjangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.