Peristiwa Rengasdengklok : Sejarah, Latar Belakang, Tokoh dan Kronologi

Catatan sejarah Rengasdengklok merupakan peristiwa penting yang sangat berdekatan dengan lahirnya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui peristiwa inilah proklamasi kemerdekaan disampaikan oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.

Bahkan jika dianalisa lebih dalam, tidak mungkin kita merdeka di tanggal 17 agustus 1945 bila tidak ada peristiwa rengasdengklok. Seperti apa peristiwa ini terjadi? Berikut ulasan lengkapnya.

Sejarah Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok merupakan sejarah penting bagi negara Indoneisa dan menjadi sebuah momen sebelum teks proklamasi kemerdekaan diserukan oleh Soekarno.

Sejarah peristiwa ini berawal dari pengeboman kota Hirosima dan Nagasaki yang merupakan kekalahan bagi Jepang hingga mereka pulang ke negara asalnya.

Kekosongan di Indonesia dimanfaatkan oleh golongan muda untuk mendesak golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Setelah awalnya mengalami penolakan oleh Soekarno sebagai wakil golongan tua, golongan muda pun melakukan aksi penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

Selama itu, golongan muda terus mendesak para golongan tua seperti Achmad Subardjo dan Sudiro dalam sebuah rapat atau perundingan. Pada akhirnya, proklamasi kemerdekaan disetujui dan akan segera dilakukan setelah kedua tokoh penting tersebut dibebaskan dan dikembalikan ke Jakarta.

Teks proklamasi pun segera disusun dan diketik kemudian dibacakan dengan lantang di hadapan seluruh rakyat Indonesia. Lokasi pembacaan teks proklamasi dilakukan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56.

Teks proklamasi ditanda tangani Oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta yang selanjutnya menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama di Indonesia.

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Awal mula ide kemerdekaan muncul karena Jepang mengalami kekalahan perang dengan di bomnya kota Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat.

Kedua kota tersebut adalah kota penting dalam pemerintahan Jepang, sehingga Jepang pun pulang ke negaranya dan meninggalkan Indonesia sebagai negara jajahan dan sempat memberi janji kemerdekaan.

Latar belakang terjadinya peristiwa Rengasdenglok adalah karena adanya perbedaan pendapat/keinginan antara petinggi negara dengan kalangan muda yang bertolak belakang.

Soekarno dan Moh. Hatta sebagai petinggi/tokoh negara golongan tua menginginkan proklamasi dilakukan oleh PPKI sebagai panitia kemerdekaan yang dibentuk Jepang.

Sedangkan golongan para pemuda menganggap bahwa PPKI adalah buatan jepang dan tidak perlu bantuan PPKI untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda juga khawatir bahwa makna kemerdekaan yang merupakan hasil perjuangan bangsa seakan-akan menjadi sebuah pemberian dari jepang. Oleh karena itu, mereka mendesak proklamasi kemerdekaan agar Soekarno dan Moh. Hatta terpengaruh oleh janji-janji Jepang.

Untuk mencapai tujuan kemerdekaan, golongan muda telah mengadakan pertemuan atau perundingan di salah satu lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Dalam pertemuan yang dilaksanakan pada 15 agustus tersebut, disepakati bahwa pelaksanaan kemerdekaan sudah terlepas dari ikatan/hubungan janji kemerdekaan dari jepang.

Namun, saat disampaikan pada malam harinya, Ir. Soekarno menolak karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI. Nah, hal ini lah yang menjadi latar belakang para pemuda pada akhirnya melancarkan peristiwa Rengasdengklok.

Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Untuk lebih memahami peristiwa Rengasdengklok yang terjadi pada 16 Agustus 1945, berikut ini rincian kronologi lengkapnya, antara lain:

1. Berita Kekalahan Jepang pada 14 Agustus 1945

Jepang mengalami kekalahan pada tanggal 14 Agustus 1945 dan disampaikan oleh Kaisar Hirohito. Berita ini tiba di tanah air sekitar tepat seminggu setelah peristiwa bom atom di Kota Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat.

Sesaat setelah adanya berita tersebut, Domei, pemuda Indonesia yang bekerja di kantor berita Jepang langsung memahaminya sebagai berita baik. Dengan segera Domei meneruskan berita baik ini kepada teman seperjuangan di tanah air.

Sementara pihak golongan tua seperti Ir. Soekarno dan Moh. Hatta saat itu sedang berunding dengan Marsekal Terauchi. Beliau adalah panglima tertinggi Jepang di wilayah Asia Tenggara. Pada saat itu, golongan tua belum mengetahui tentang berita kekalahan Jepang.

2. Golongan Muda Mendesak Proklamasi Kemerdekaan

Dengan adanya berita kekalahan Jepang, golongan muda yang ambisi untuk memperjuangkan kemerdekaan langsung mendesak golongan tua untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.

Golongan tua masih menunggu janji kemerdekaan dari jepang melalui panitia PPKI. Sedangkan golongan muda tidak percaya dengan janji tersebut dan tidak ingin kemerdekaan Indonesia dicampuri oleh tangan Jepang.

Tanggal 15 Agustus, golongan muda mengadakan rapat/merundingkan tentang kemerdekaan, hasilnya semua setuju bahwa kemerdekaan harus lepas dari PPKI dan Jepang.

Namun, saat menyampaikan hasil rapat pada malam harinya, terdapat penolakan dari Ir Soekarno karena beliau bertanggung jawab sebagai ketua PPKI.

3. Peristiwa Penculikan pada 16 Agustus 1045

Karena hasil rapatnya ditolak, para pemuda segera melakukan aksi penculikan dan pengamanan golongan tua yaitu Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Mereka diamankan di Rengasdengklok selama satu hari.

Menyadari hal itu, Achmad Subardjo sebagai wakil golongan tua mengadakan rapat dengan golongan muda, hasilnya akan segera dilakukan proklamasi kemerdekaan.

Hasil rapat tersebut tentu menyebutkan beberapa syarat seperti di bawah ini:

  • Golongan tua menuntut golongan muda untuk membawa kembali dua tokoh penting Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Jakarta
  • Golongan muda menuntut golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang

4. Penjemputan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta

Akhirnya, Jusuf Kunto dan Achmad Subardjo sebagai wakil dari golongan tua menjempur Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, serta didampingi oleh Sudiro.

Kedua tokoh penting kemerdekaan tersebut dibawa kembali ke Jakarta pada 16 Agustus 1945 jam 11 malam. Mereka juga sempat singgah di rumah Laksamana Maeda dan menyusun naskah proklamasi di sana.

Sebelumnya, Ir. Soekarno sudah melakukan hubungan atau komunikasi dengan pihak Jepang terkait rencana kemerdekaan Indonesia. Namun, pihak Jepang tidak sepenuhnya setuju dan meminta Ir. Soekarno untuk menunggu sampai Jepang kembali ke Indonesia.

Hal inilah yang menyebabkan Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan semua anggotanya semakin yakin untuk segera memerdekakan Indonesia campur tangan Jepang.

5. Penyusunan Teks Proklamasi

Saat menyusun teks proklamasi, kembali ada perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua. Moh. Hatta sebagai wakil golongan tua berpendapat bahwa teks proklamasi harus ditanda tangani oleh seluruh orang yang hadir saat itu.

Model ini mencontoh dari proklamasi kemerdekaan yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Namun, golongan muda tidak setuju, lalu Soekarni berpendapat bahwa tanda tangan dilakukan oleh Soekarno dan Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia.

Akhirnya pendapat Soekarni tersebut disetujui oleh semua yang hadir saat itu. Setelah penulisan naskah selesai, golongan tua pun kembali ke rumah masing-masing sekitar jam 4 pagi tanggal 17 Agustus 1945.

Naskah kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik, golongan muda tidak pulang karena masih rapat perihal tempat pembacaan teks proklamasi.

6. Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan

Pada akhirnya, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 jam 10 pagi di rumah Soekarno. Lokasinya beradap di jalan Pegangsaan Timur No. 56 dan sekarang menjadi monumen proklamasi.

Tujuan Peristiwa Rengasdengklok

Tujuan dari peristiwa Rengasdengklok tentu untuk kebaikan bersama dan tidak lepas dari peran golongan muda yang ingin segera memerdekakan Indonesia.

Peristiwa ini dilakukan untuk tujuan pengamanan terhadap golongan tua yaitu Ir. Soekarno dan Moh.Hatta sebagai petinggi negara. Kedua tokoh inilah yang nantinya dinobatkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama negara Indonesia.

Rengasdengklok sendiri dirasa paling aman dan sudah diperhitungkan secara militer bahwa lokasi tersebut jauh dari Jakarta dan Cirebon. Selain itu, Rengasdengklok juga tempat yang strategis dan mudah untuk mengawasi pergerakan tentara Jepang di jakarta dan Bandung.

Tokoh yang Terlibat Dalam Peristiwa Rengasdengklok

Tokoh pemuda yang terlibat dalam penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta adalah Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Shaleh. Mereka berasal dari perkumpulan ‘Menteng 31’

  1. Ir. Soekarno. Ketua PPKI dan tokoh penting negara yang diculik oleh golongan muda ke Rengasdengklok. Ir. Soekarno adalah pembaca teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi Presiden pertama.
  2. Moh. Hatta. Moh. Hatta bersama dengan Ir. Soekarno juga diculik ke Rengasdengklok dan ditahan di dana selama satu hari. Moh. Hatta bersama dengan Ir. Soekarno saat pembacaan tek proklamasi dan ikut menandatangani. Beliau adalah wakil Presiden pertama di Indonesia.
  3. Achmad Subardjo. Wakil golongan tua yang ikut rapat dengan golongan pemuda setelah menyadari peristiwa penculikan kedua tokoh penting Soekarno dan Hatta. Achmad Soebarjo juga ikut dalam penjemputan kedua tokoh tersebut untuk dikembalikan ke Jakarta.
  4. Sudiro. Sudiro juga wakil dari golongan tua yang ikut bersama Achmad Subardjo dalam penjemputan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.
  5. Soekarni. Golongan muda yang ikut serta dalam perundingan untuk mendesak proklamasi dan juga dalam peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Soekarni juga yang memberi pendapat mengenai tanda tangan yang harus disematkan pada teks proklamasi hingga akhirnya disetujui oleh semuanya.
  6. Wikana. Golongan muda yang ikut bersama Soekani dan Chaerul Shaleh, ketiganya merupakan perkumpulan ‘Menteng 31’ yang menyukseskan peristiwa penculikan Rengasdengklok.
  7. Aidit. Aidit bersama dengan Soekarni, Wikana dan Chaerul Shaleh melakukan penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Mereka tergabung dalam perkumpulan ‘Menteng 31’.
  8. Chaerul Shaleh. Golongan muda yang ikut serta dalam peristiwa Rengasdengklok hingga akhirnya proklamasi kemerdekaan benar-benar diserukan.
  9. Sayuti Melik. Tokoh negeri yang mengetik teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
  10. Laksamana Maeda. Tokoh yang juga ikut andil dalam peristiwa Rengasdengklok dan rumahnya dijadikan sebagai tempat penyusunan teks proklamasi kemerdekaan.

Tokoh Lainnya. Selain tokoh-tokoh di atas, masih banyak tokoh golongan muda maupun golongan tua yang ikut dapat rapat dan peristiwa-peristiwa sebelum kemerdekaan.

Beberapa dari mereka juga berasal dari angkatan militer atau tentara yang ikut membantu dalam peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.

Apa Makna Peristiwa Rengasdengklok Bagi Proklamasi Kemerdekaan?

Makna penting dari peristiwa Rengasdengklok yang bisa kita ambil adalah pesan moral tidak mudah menyerah dan terus berusaha meraih mimpi. Hal ini ditunjukkan oleh semangat golongan muda dalam mencapai mimpi kemerdekaan Indonesia yang awalnya mengalami penolakan pahit.

Namun, mereka tidak mudah menyerah dan terus berusaha memberi pengertian kepada golongan muda dengan mengadakan parat atau perundingan.

Sebagai pemuda bangsa Indonesia, Kita juga harus selalu berusaha meraih mimpi dan tujuan bersama untuk memajukan dan mensejahterakan Indonesia. Berusahalah untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa dan menjadikan negara Indonesia semakin maju.

Akhir Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok yang cukup pelik ini berakhir baik dengan penjemputan kedua tokoh penting Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Kemudian, keduanya sudah yakin untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan dan segera menyusun teks proklamasi.

Setelah selesai, teks diketik dan pada tanggal 17 Agustus 1945 teks proklamasi tersebut dibacakan di depan seluruh rakyat Indonesia. Sejak saat itu, peristiwa Rengasdengklok berakhir dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. .

Tinggalkan komentar