Pengertian Carding: Cara Kerja, Contoh dan Dampak

Dalam era digital yang terus berkembang, keamanan informasi pribadi dan keuangan adalah salah satu isu terbesar yang dihadapi oleh individu, bisnis, dan lembaga keuangan.

Dalam konteks ini, “carding” adalah salah satu ancaman serius yang telah menarik perhatian penegak hukum dan ahli keamanan selama beberapa tahun terakhir. Artikel ini akan membahas apa itu carding, bagaimana carding dilakukan, serta dampak dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk melindungi diri dari ancaman carding.

Apa Itu Carding?

Carding adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada sejumlah kegiatan ilegal yang melibatkan pencurian data kartu kredit atau debit dan penggunaannya untuk tujuan penipuan.

Orang yang terlibat dalam carding dikenal sebagai “carder.” Mereka memanfaatkan berbagai metode untuk mendapatkan data kartu kredit, seperti mencuri data dari situs web e-commerce, melakukan phishing, atau membeli data dari pasar gelap online.

Setelah berhasil mendapatkan data kartu kredit, carder dapat menggunakan kartu tersebut untuk melakukan pembelian barang atau layanan secara ilegal, atau bahkan menjual data kartu tersebut kepada pihak lain.

Jenis Jenis Carding

Para carder, atau pelaku carding, menggunakan berbagai metode untuk mencuri data kartu kredit dan debit serta menggunakannya untuk tujuan penipuan. Berikut ini adalah beberapa jenis carding yang perlu diwaspadai:

  1. Misuse of Card Data (Penyalahgunaan Data Kartu)

Dalam jenis carding ini, para pelaku carding menggunakan data kartu kredit atau debit tanpa sepengetahuan pemilik kartu. Mereka melakukan penyalahgunaan data tersebut dengan hati-hati, seringkali untuk mencapai jumlah transaksi yang besar, sehingga pemilik kartu mungkin tidak menyadari aktivitas yang mencurigakan ini.

  1. Wiretapping (Penyadapan)

Wiretapping adalah bentuk carding yang melibatkan penyadapan transaksi kartu kredit melalui jaringan komunikasi. Pelaku carding dapat mencuri banyak informasi pribadi yang terkait dengan kartu kredit dan debit, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan penipuan. Tindakan ini dapat mengakibatkan kerugian finansial yang besar bagi korban.

  1. Counterfeiting (Pemalsuan)

Pada jenis carding ini, pelaku carding melakukan pemalsuan kartu kredit sehingga kartu palsu tersebut tampak sangat mirip dengan kartu asli. Proses pemalsuan ini seringkali melibatkan individu yang memiliki koneksi luas dan keahlian khusus dalam pemalsuan kartu. Kartu palsu ini kemudian digunakan untuk berbelanja atau transaksi ilegal lainnya.

  1. Phishing (Penipuan Melalui Email)

Dalam kasus phishing, cara kerja carding adalah dengan melakukan penipuan terhadap pemilik kartu kredit melalui email. Pelaku carding akan mengirimkan email palsu kepada korban yang seakan-akan berasal dari lembaga keuangan atau bisnis terkemuka.

Email tersebut dimaksudkan untuk meminta korban memasukkan informasi pribadi, termasuk data kartu kredit, ke situs web palsu yang telah dibuat oleh pelaku carding. Terdapat dua sistem utama yang sering digunakan oleh carder dalam phishing:

  • Mengirimkan Virus ke Sistem PC: Pelaku carding dapat mengirimkan virus atau malware ke sistem komputer korban melalui lampiran email. Virus ini dapat digunakan untuk mencuri data kartu kredit dan informasi pribadi lainnya.
  • Memberikan Link ke Website Palsu: Email phishing seringkali mengandung tautan ke situs web palsu yang dirancang dengan sangat mirip dengan situs resmi lembaga keuangan atau bisnis. Ketika korban mengklik tautan tersebut dan memasukkan informasi pribadi, data mereka akan jatuh ke tangan pelaku carding.

Bagaimana Carding Dilakukan?

1. Pencurian Data Kartu Kredit: Salah satu cara utama untuk memulai carding adalah dengan mencuri data kartu kredit atau debit dari individu atau bisnis. Pencurian ini bisa terjadi melalui berbagai metode, termasuk pembobolan situs web e-commerce yang tidak terlindungi dengan baik atau pelanggaran keamanan data dalam organisasi.

2. Phishing: Carder juga menggunakan teknik phishing untuk mendapatkan data kartu kredit. Mereka mengirimkan email palsu yang tampaknya berasal dari lembaga keuangan atau bisnis terkemuka dan meminta penerima email untuk memasukkan informasi kartu kredit mereka di situs web palsu yang telah mereka buat.

3. Penjualan Data Kartu Kredit: Sebagian besar carder tidak selalu menggunakan data kartu kredit yang dicuri untuk diri mereka sendiri. Mereka seringkali menjual data tersebut kepada pihak ketiga melalui pasar gelap online. Hal ini menciptakan rantai penipuan yang lebih kompleks.

4. Penggunaan Kartu Kredit yang Dicuri: Carder dapat menggunakan data kartu kredit yang dicuri untuk berbelanja secara online, membeli barang elektronik, dan bahkan membeli kartu hadiah yang dapat dicairkan. Tindakan ini tidak hanya merugikan pemegang kartu kredit, tetapi juga bisnis yang menerima pembayaran tersebut.

5. Jasa Pencucian Uang (Money Mules): Untuk menyembunyikan jejak mereka, carder dapat menggunakan “jasa pencucian uang” atau “money mules.” Ini adalah individu yang disewa untuk menerima uang hasil carding, menariknya, dan kemudian mentransferkannya ke akun lain. Ini mempersulit tindakan penegakan hukum dalam melacak transaksi.

Dampak Carding

Carding memiliki dampak serius yang bisa dirasakan oleh berbagai pihak, termasuk:

1. Pemegang Kartu Kredit: Pemegang kartu kredit yang data kartunya dicuri menghadapi risiko kerugian finansial, terutama jika penipuan tersebut tidak segera terdeteksi. Mereka mungkin harus membuktikan bahwa mereka bukan yang melakukan transaksi ilegal tersebut untuk mendapatkan pengembalian dana.

2. Bisnis: Bisnis yang menjadi korban carding bisa menghadapi kerugian finansial akibat pembelian yang tidak sah dan penurunan reputasi. Mereka juga mungkin harus menghadapi sanksi dari lembaga pemroses pembayaran.

3. Lembaga Keuangan: Lembaga keuangan seperti bank dan penyedia kartu kredit harus menanggung biaya tinggi untuk peningkatan keamanan dan penanganan penipuan. Hal ini dapat mengarah pada peningkatan biaya operasional yang akhirnya dapat mempengaruhi nasabah mereka.

4. Penegak Hukum: Penegak hukum harus menginvestasikan sumber daya yang signifikan untuk mendeteksi, menyelidiki, dan menindak para pelaku carding. Carding sering melibatkan jaringan transnasional, sehingga penegakan hukum perlu bekerja sama secara internasional.

5. Ketidakpercayaan Publik: Penipuan dan kebocoran data yang berkaitan dengan carding dapat menciptakan ketidakpercayaan di antara masyarakat terhadap e-commerce dan lembaga keuangan. Ini dapat mengurangi pertumbuhan industri digital dan perdagangan elektronik.

Langkah-langkah untuk Melindungi Diri dari Carding

Menghadapi ancaman carding, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk melindungi diri sendiri dan bisnis Anda:

1. Lindungi Informasi Pribadi: Pastikan Anda tidak memberikan informasi pribadi atau data kartu kredit kepada situs web atau layanan yang tidak tepercaya. Selalu pastikan situs web memiliki koneksi aman (HTTPS) sebelum memasukkan data sensitif.

2. Pantau Aktivitas Kartu Kredit: Selalu pantau aktivitas kartu kredit Anda secara berkala. Jika ada transaksi yang mencurigakan, laporkan segera ke penyedia kartu kredit Anda.

3. Gunakan Keamanan Tambahan: Aktifkan keamanan tambahan seperti otentikasi dua faktor (2FA) di akun online Anda. Ini akan memberikan lapisan perlindungan ekstra.

4. Educate Yourself: Pelajari cara mengenali email phishing dan situs web palsu. Jangan pernah klik tautan atau lampiran dari sumber yang tidak Anda kenal.

5. Jangan Bagikan Data dengan Sembarang Orang: Hindari berbagi data kartu kredit melalui pesan teks atau email, terutama jika Anda tidak yakin akan keamanan komunikasi tersebut.

6. Perbarui Perangkat dan Software: Pastikan perangkat Anda dan perangkat lunak keamanan selalu diperbarui dengan yang terbaru.

Penutup

Carding adalah ancaman serius dalam dunia keamanan digital yang tidak boleh dianggap enteng. Langkah-langkah pencegahan dan kesadaran tentang metode carding adalah kunci untuk melindungi diri sendiri, bisnis, dan keuangan Anda. Dalam menghadapi carding, kerja sama antara pihak berwenang, bisnis, dan individu sangat penting untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman.

Contoh Kejahatan Carding

Contoh kasus kejahatan carding yang pernah geger di Indonesia, yakni mengenai kejahatan seorang karyawan Starbucks di MT Haryono, Tebet, Jakarta Selatan, pada tahun 2010.

Ia telah menggelapkan data nasabah pada sekitar Maret 2010, yang akhirnya kejahatan tersebut terbongkar, setelah adanya pelaporan transaksi illegal lebihd ari 41 nasabah. Akhirnya, pelaku dijerat pasal 362 KUHP tentang penipuan dan pasal 378 KUHP tentang pencurian, yang dikenai hukuman penjara diatas 5 tahun.

Apakah artikel ini membantu?

Terima kasih telah memberi tahu kami!
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari Jurnalponsel.com, pastikan untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Litalia. (). Pengertian Carding: Cara Kerja, Contoh dan Dampak. Diakses pada , dari https://www.jurnalponsel.com/pengertian-carding/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.