√ Pelayaran Hongi : Pengertian, Tujuan, Dampak dan Sejarah Lengkap

Pengertian Pelayaran Hongi

Istilah pelayaran Hongi mungkin sudah sering didengar, khususnya dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Apalagi ketika membicarakan masa dimana Belanda menjajah dan menjarah rempah di Indonesia, sehingga menyebabkan kemelaratan dan berkurangnya produksi rempah seperti cengkeh.

Tetapi mungkin masih ada banyak yang bingung soal apa itu pelayaran Hongi dan mengapa ini dilakukan. Karena itulah kali ini kita akan membahasnya.

Pengertian Pelayaran Hongi

Pelayaran Hongi merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menyebut pelayaran yang dilakukan oleh pihak Belanda atau Vereenigde Ooostindische Compagnie. Nama ini sering pula disebut Ekspedisi Hongi atau Hongitochten.

Ekspedisi ini dilakukan oleh VOC sebagai sistem keamanan untuk mencegah upaya pencurian rempah-rempah di Nusantara, sehingga perlengkapan senjata yang digunakan juga sangat lengkap.

VOC sendiri adalah persekutuan dagang yang mempunyai tujuan untuk memonopoli aktivitas perdagangan di wilayah Asia, tak terkecuali Indonesia.

Pada wilayah Nusantara, pelayaran terfokus di area perairan Maluku dengan menggunakan kapal kora-kora. Adapun nama kapal kora-kora yang digunakan adalah Hongi, sehingga dikenal ‘pelayaran Hongi’.

Latar Belakang Pelayaran Hongi

Pelayaran Hongi terbentuk atas prakarsa dari pihak VOC Belanda yang memang bergerak pada urusan dagang Asia. Diketahui bahwa pelayaran ini sebenarnya merupakan taktik pihak Belanda untuk menguasai hasil rempah-rempah di Nusantara.

Kala itu yang menjadi komoditas menarik dan unik adalah cengkeh dan pala. Permasalahannya wilayah penghasil cengkeh dan pala tergolong sulit untuk dijangkau. Sementara itu keberadaan kedua rempah tersebut semakin langka di dunia perdagangan.

Hal itulah yang kemudian menjadi asal mula timbul niat dari Belanda untuk melakukan monopoli dengan membatasi produksi rempah-rempah.

Meski berlindung dengan dalih bahwa tujuan dari pelayaran Hongi adalah untuk mengamankan kawasan Nusantara dari pencurian, nyatanya banyak pihak yang menyadari maksud terselubung tersebut.

Alhasil ketidaksetujuan dan upaya perlawanan dari beberapa wilayah Nusantara tidak bisa terelakkan lagi. Salah satu wilayah yang menolak kebijakan VOC pada masa itu adalah Banda, sehingga Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen mengerahkan armadanya untuk menyerang pada tahun 1621.

Dengan armada yang luar biasa, pihak Belanda mampu menghabisi masyarakat Banda dengan membunuh para pemimpin mereka. Tidak hanya di Nusantara saja, pihak luar yang dianggap mempunyai peluang dan keinginan untuk bersaing dengan Belanda dalam menguasai rempah-rempah juga disingkirkan.

Sebut saja Spanyol, Portugis, dan Inggris. Bahkan pada tahun 1623, hanya berselang dua tahun, Inggris juga dihabisi oleh Belanda.

Tujuan Pelayaran Hongi

Jika melihat latar belakang lahirnya pelayaran Hongi, ada beberapa benang merah mengenai tujuan pelayaran tersebut yang bisa disimpulkan.

Pihak Belanda yang saat itu menggunakan VOC menerapkan sistem perdagangan yang harus dipatuhi di Asia. Tujuannya yaitu untuk mencegah terjadinya penyelundupan rempah-rempah.

Selain itu pelayaran Hongi juga bertujuan untuk mengawasi proses perdagangan yang berlangsung agar tetap berada dalam jalur monopoli yang ditetapkan.

Selanjutnya rempah-rempah yang diperdagangkan di kawasan Nusantara juga sangat diawasi oleh pihak VOC.

Tujuan yang paling penting dan juga menjadi cikal bakal lahirnya pelayaran Hongi yaitu keinginan Belanda untuk memusnahkan produksi berlebihan rempah-rempah.

Hal itulah yng menyebabkan banyak perkebunan cengkeh dan lada dari warga lokal yang dihancurkan oleh pihak Belanda atau VOC.

Dampak Pelayaran Hongi

Seperti berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah, pelayaran Hongi juga membawa dampak negatif dan dampak positif. Dampak yang dibahas di sini menggunakan sudut pandang masyarakat pribumi dalam hal ini bangsa Indonesia.

Dampak negatif yang ditimbulkan pelayaran Hongi secara umum ada dua.

  • Pertama, keuntungan yang diperoleh pihak Belanda semakin banyak, sedangkan masyarakat lokal menderita kekurangan.
  • Kedua, produksi pohon cengkeh dan lada di Nusantara, khususnya Maluku mengalami pengurangan dan kehancuran.

Sementara itu dampak positif dari pelayaran Hongi yaitu rasa persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia semakin meningkat.

Hal itu dikarenakan mereka sudah bisa melihat dengan jelas begaimana sikap dan perlakukan pihak  VOC. Dengan begitu motivasi masyarakat untuk melakukan perlawanan semakin besar.

Peraturan Hongi

Dalam praktik pelayaran Hongi, pihak VOC menerapkan peraturan tertentu demi melancarkan tujuannya. Akan tetapi sebelumnya VOC terlebih dahulu melakukan perjanjian dengan raja, patih, ataupun orang terpandang yang menjadi pemimpin suatu wilayah.

Perjanjian tersebut berlangsung jika wilayah yang dituju setuju dengan pemusnahan cengkeh.

Sebenarnya perjanjian hanya merupakan bentuk formalitas saja, karena jika ada wilayah yang menolak untuk memusnahkan tanaman cengkeh di wilayahnya, maka VOC tidak akan segan bertindak kasar.

Kepala wilayah akan dibuang, sedangkan rakyatnya akan dideportasi yaitu dipindah paksa ke pulau lain.

Setelah persetujuan perjanjian, wilayah yang akan dimusnahkan tanaman cengkehnya wajib menyediakan kora-kora serta pendayung.

Kora-kora ini akan digunakan untuk berlayar ke pulau lainnya. Jika ada yang menolak untuk mendayung, maka hukumanya adalah dicambuk dan didenda.

Semua yang disediakan oleh kepala wilayah atau negeri itu akan diberikan ganti rugi dari VOC. Sayangnya korupsi yang dilakukan oleh pegawai VOC ataupun kepala negeri menyebabkan rakyat setempat yang sebenarnya paling dirugikan tidak memperoleh apa-apa.

Perlawanan Terhadap Praktik Pelayaran Hongiu

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa masyarakat Nusantara yang tidak setuju dengan pelayaran Hongi melakukan perlawanan.

Salah satunya yaitu perlawanan dari pihak Banda, yang juga dikenal sebagai produsen cengkeh. Sayangnya upaya dan perjuangan yang dilakukan harus berakhir kemalangan.

Selain itu Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan juga mengerahkan armada untuk melakukan perlawanan membantu rakyat Maluku.

Diketahui ada sekitar 100 perahu yang digunakan dengan armada kuat. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan pelayaran Hongi di Maluku sudah terlalu besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.