Majas – Macam-macam Majas, Pengertian, dan Contohnya

majas

Majas – Apakah Anda pernah menemukan rangkaian kata yang memiliki makna implisit dalam karya sastra? Itulah salah satu ciri majas—bagian dari gaya bahasa. Dengan memakai majas, sebuah karya terasa lebih imajinatif, mengesankan, indah, dan bernyawa. Majas juga bisa mewakili pemikiran serta perasaan penulisnya.

Daftar isi

Pengertian Majas

Pengertian Majas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, majas merupakan cara menggambarkan sesuatu dengan membuat perumpamaan seperti benda lain. Biasanya, penulis menggunakan majas sebagai strategi untuk mencapai tujuan menulis. Semisal, penulis ingin memfokuskan makna melalui bahasa singkat, tetapi tetap menarik dan mudah dipahami pembaca.

Pengertian Majas Menurut Para Ahli

Pemahaman mengenai majas tidak hanya didapatkan melalui KBBI, tetapi juga dari argumen para ahli. Berikut beberapa argumen yang bisa Anda jadikan referensi.

A.     Aminuddin

Aminuddin berpendapat, majas merupakan gaya bahasa pengarang untuk menjelaskan gagasannya. Pengarang menginginkan adanya efek emosional dan tujuan yang tercapai dalam setiap pemaparan melalui majas.

B.     Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan—penulis buku Bahasa Indonesia dan pakar linguistik—menyatakan, majas adalah ungkapan pikiran dengan bahasa khas. Bahasa tersebut menunjukkan jiwa dan kepribadian penulis.

C.     Dr. Gorys Keraf

Dosen Universitas Indonesia sekaligus ahli bahasa tersohor di Indonesia, Dr. Gorys Keraf, mengatakan, majas dianggap baik apabila memiliki unsur kejujuran, sopan santun, dan menarik.

D.    Jan Van Luxemburg

Jan van Luxemburg, pengarang buku Tentang Sastra, mengartikan majas sebagai sesuatu yang menjadi ciri khas tulisan. Menurutnya, sebuah teks yang mengandung majas, pada momen tertentu bisa melukiskan karakteristik individu satu dengan lainnya.

E.     Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro

Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro—ahli pendidikan bahasa dan sastra UNY—mendefinisikan majas sebagai teknik pengungkapan bahasa. Setiap makna majas tidak menunjuk pada arti sebenarnya, melainkan tersirat.

F.      Laksmi Wijaya

Pengertian majas menurut Laksmi Wijaya—penulis buku Ejaan yang Disempurnakan—merupakan gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah karangan, baik berupa lisan maupun tulisan. Menurut Laksmi Wijaya, majas mengungkapkan perasaan dan pikiran pengarang secara keseluruhan.

G.     Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana

Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana, filolog dan sejarawan asal Indonesia, memaknai majas sebagai susunan perkataan yang muncul akibat dorongan perasaan dari hati penulis. Karena itu, majas bisa menimbulkan efek tertentu pada pembaca.

Macam-Macam Majas

Macam-Macam Majas
Macam-Macam Majas

Dalam Bahasa Indonesia, majas dibagi menjadi empat macam, yaitu perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan. Supaya lebih jelas, simak pemaparan masing-masing majas beserta contohnya berikut ini.

A. Majas Perbandingan

Majas perbandingan merupakan ungkapan untuk membandingkan sesuatu karena ada kemiripan bentuk dan sifat. Berikut beberapa jenis majas perbandingan yang sering diterapkan dalam Bahasa Indonesia.

1. Majas Alegori

Majas alegori menggunakan kiasan yang mengandung kesatuan makna untuk menggambarkan sesuatu.

Contoh Majas Alegori:
  1. Menemukan orang jujur di zaman sekarang ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami.
  2. Lidah manusia ibarat pedang yang tajam, berhati-hatilah dalam menggunakannya.
  3. Perasaan wanita mudah rapuh bagaikan jendela kaca yang tipis.
  4. Menjalani kehidupan rumah tangga ibarat mengarungi samudera luas dengan sebuah bahtera.
  5. Laksana api membakar kayu, sifat iri dan dengki bisa melenyapkan kebaikan pada diri manusia.
  6. Dia banyak bicara bagaikan tong kosong berbunyi nyaring.

2. Majas Alusio

Majas yang menggambarkan suatu hal menggunakan tokoh atau peristiwa di masa lalu. Contoh majas alusio terungkap dalam kalimat-kalimat di bawah ini.

Contoh Majas Alusio:
  1. Penghayatan Anda akan puisi tersebut mengingatkan saya pada sosok almarhum WS. Rendra.
  2. Suara Anda saat menyanyi mirip sekali dengan suara Rossa.
  3. Dia memperlakukan saudaranya seperti sikap bawang merah terhadap bawang putih dalam cerita rakyat.
  4. Kemenangan tim basket kami atas tim lawan sama seperti kemenangan Emtek atas Kompas di IBBAMNAS 2019.

3. Majas Simile

Ciri khas majas simile adalah menggunakan kata penghubung atau kata depan : layaknya, seperti, bagaikan, laksana, dan bagai. Berikut contoh kalimatnya.

Contoh Majas Simile:
  1. Wajahmu cerah bagai matahari yang bersinar di pagi  hari.
  2. Gadis cantik itu seperti bunga melati yang baru mekar.
  3. Pertemanan kita layaknya rantai yang kokoh.
  4. Engkau laksana bulan yang bersinar di tengah kegelapan.
  5. Cinta kasih seorang ibu bagaikan surya yang menyinari dunia.
  6. Kesombongannya seperti Raja Fir’aun.
  7. Bayi itu tak punya dosa bagai kertas yang belum ada coretan.

4. Majas Metafora

Majas ini menggunakan perbandingan analogis untuk mengungkapkan suatu hal tanpa menyertakan kata penghubung : seperti, layaknya, laksana, bagaikan, dan ibarat. Contohnya berikut ini.

Contoh Majas Metafora:
  1. Raja siang terbit di pagi yang indah.
  2. Aku bahagia melihat dewi malam datang.
  3. Tidak ada seekor hewan pun yang berani menantang raja hutan.
  4. Laki-laki itu memeluk buah hatinya.
  5. Gadis pandai itu kutu buku.
  6. Anak pak lurah menjadi kembang desa.
  7. Besok si lintah darat itu akan kemari lagi.
  8. Negeri ini dipenuhi tikus kantor.
  9. Dia mati kutu saat ditanya gurunya.
  10. Anita menjadi anak emas orang tuanya.

5. Majas Antropomorfisme

Majas antropomorfisme adalah ungkapan yang menjadikan hewan atau benda melakukan tindakan seperti manusia. Berikut ini daftar contohnya.

Contoh Majas Antropomorfisme:
  1. Seekor anak kelinci berkelana mencari ibunya yang menghilang entah ke mana.
  2. Singa menyuruh kancil untuk mengembalikan timun pak tani.
  3. Harimau mengamuk karena kancil mengganggu tidur siangnya.
  4. Anjing itu merengek kepada majikannya.
  5. Anjing memelas kepada majikannya supaya memberikan sepotong daging untuknya.
  6. Diam-diam, cicak mendengarkan pembicaraan Pak Amir dan istrinya.
  7. Setiap kali berpapasan, semut-semut itu selalu bersalaman.
  8. Lihatlah, jam dinding itu menertawakanmu yang sejak tadi terdiam menatapnya.

6. Majas Sinestesia

Majas sinestesia merupakan cara mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan pancaindra sebagai pembanding. Berikut beberapa contoh penerapan majas sinestesia.

Contoh Majas Sinestesia:
  1. Bagaimana aku tidak terpesona, matanya saja sangat indah.
  2. Suara Ayah sangat merdu hingga terdengar sampai ke seluruh penjuru kompleks.
  3. Wajah adik begitu cerah saat mendengar ayah akan pulang.
  4. Ia memiliki tatapan tajam sehingga aku tidak berani memandangnya.
  5. Ibu memang sudah tidak di sini, tetapi tangannya masih menggenggamku dari jauh.

7. Majas Antonomasia

Majas antonomasia digunakan untuk memberikan julukan atau gelar pada seseorang karena sifat dan ciri khas dirinya. Contohnya sebagai berikut.

Contoh Majas Antonomasia:
  1. Tidak mungkin si kurus itu bisa lolos pemilihan gadis sampul.
  2. Si gempal kesulitan berlari sehingga ia ditinggal oleh kawan-kawannya.
  3. Kalau kerjanya bersantai setiap hari, si pengkhayal itu tidak akan pernah sukses.
  4. Sekarang saat yang tepat untuk berkenalan dengan si wajah ayu itu.
  5. Katakan pada si gendut agar datang sore ini juga.
  6. Hari masih gelap, tetapi si gimbal sudah nongkrong di warung Bu Inem.
  7. Aku tidak bisa tidur; si tampan terus membayang di mataku.
  8. Karierku hancur karena difitnah oleh si tamak itu.

8. Majas Aptronim

Majas aptronim adalah gaya bahasa yang dipakai untuk memberikan julukan pada seseorang sesuai dengan pekerjaan atau sifatnya.

Contoh Majas Aptronim:
  1. Semua orang sedang berduka karena Tina si murah senyum meninggal dunia kemarin sore.
  2. Dila si anak hilang sudah ditemukan tadi pagi.
  3. Anton si raja utang belum melunasi tagihan sejak dua bulan lalu.
  4. Mas Joko bakso tidak berjualan karena sedang sakit.
  5. Jarwo codet sudah insaf, ia kini menjadi ustad.

9. Majas Metonimia

Majas ini memakai atribut, label, maupun merek dalam kesatuan kalimat untuk mengungkapkan sesuatu yang bertujuan memberikan efek kepada pendengar. Contohnya berikut ini.

Contoh Majas Metonimia:
  1. Saya menikmati pagi dengan secangkir White Coffe dan membaca koran hari ini.
  2. Setiap selesai olahraga, saya menenggak satu botol Aqua.
  3. Sepeda Pak Ari tersenggol Avanza.
  4. Dia berangkat ke Surabaya dengan naik Garuda Indonesia.
  5. Matahari menyambut Ramadan dengan mengadakan diskon fesyen dan alat rumah tangga.
  6. Sampai sekarang, Indomie menjadi santapan andalan saat belum gajian.
  7. Dia menjadi driver Grab sejak setahun lalu.
  8. Saya mengonsumsi Hemaviton sebelum bekerja.
  9. Ibu melumuri tubuh adik bayi dengan Cap Lang setiap habis mandi.

10 Majas Hipokorisme

Dalam Bahasa Indonesia, majas hipokorisme adalah penggunaan nama atau kata untuk menandakan hubungan karib antara pembicara dengan objek yang dibicarakan.

Contoh Majas Hipokorisme:
  1. Jangan risau, Mas Wied hanya belum memahami perasaanmu, Dik.
  2. Kau harus percaya dengan si Budi; dia anak yang jujur.  

11. Majas Perifrasa

Majas perifrasa diterapkan untuk membuat ungkapan panjang sebagai pengganti kata atau sesuatu yang sederhana. Di bawah ini contoh kalimat yang mengandung majas perifrasa.

Contoh Majas Perifrasa:
  1. Ani pernah menjadi TKW di negeri tirai bambu.
  2. Rida sempat menjadi relawan ketika bencana tsunami melanda kota gudeg.
  3. Mbak Mira membawa buah tangan dari kota serambi mekah.
  4. Anto mengidolakan tim sepak bola AC Milan dari negeri pizza.
  5. Ardila menyukai Fernando Torres dari negeri matador.
  6. Ia bersyukur karena mendapatkan kesempatan kuliah di negeri Paman Sam.
  7. Kota hujan menjadi tempat penuh kenangan bagi Amira.

12. Majas Hiperbola

Majas hiperbola merupakan cara menyampaikan sesuatu dengan cara berlebihan sehingga tampak lebih besar daripada kondisi sebenarnya.

Contoh Majas Hiperbola:
  1. Hatiku tersayat-sayat mendengar kisah anak malang itu.
  2. Ibunya bekerja mati-matian membanting tulang agar anaknya bisa lulus kuliah.
  3. Dia berlari secepat kilat saat ketahuan mencuri sepeda.
  4. Suara penyanyi itu menggelegar sampai ke angkasa.
  5. Air mata ibu tumpah membanjiri tanah saat tahu anaknya berdusta.
  6. Tangisnya meledak meratapi kepergian sang ayah untuk selamanya.

13. Majas Personifikasi

Majas personifikasi dipakai untuk menanamkan sifat manusia pada benda mati atau yang bukan manusia. Seolah-olah, benda-benda tersebut bisa bersikap seperti manusia. Contoh kalimatnya di bawah ini.

Contoh Majas Personifikasi:
  1. Bunga mawar merah milik ibu menggoda mata yang memandangnya.
  2. Daun palem melambai-lambai di tepi jalan, seolah menyapaku yang sedang mengemudi kendaraan.
  3. Mentari siang membakar kulitku.
  4. Daun berbisik mesra tertiup angin sepoi-sepoi.
  5. Banjir bandang menyapu bersih perumahan warga yang dilewatinya.
  6. Gunung Merapi memuntahkan isi perutnya hingga menghancurkan desa di sekitarnya.
  7. Burung bersiul indah seakan sedang merasa bahagia.

14. Majas Depersonifikasi

Majas ini kebalikan dari personifikasi, yakni membuat manusia memiliki karakter seperti benda mati atau benda hidup yang bukan manusia. Agar bisa membedakan dengan majas personifikasi, simak contoh-contohnya dalam kalimat di bawah ini.

Contoh Majas Depersonifikasi:
  1. Adikku mematung saat berhadapan dengan dosen penguji, padahal ia sudah belajar tadi malam.
  2. Bila engkau langit, aku mataharinya.
  3. Percuma kau memberikan nasihat, hatinya tetap membatu.
  4. Penonton tampak menyemut saat menyaksikan konser Via Vallen di lapangan kota.
  5. Akhirnya, hatinya melunak ketika bukti kejahatannya terungkap.
  6. Hatinya sudah mengeras, tak perlu kau menasihatinya.

15. Majas Sinekdok

Majas sinekdok ini menampilkan terdapatnya perwakilan dalam mengatakan sesuatu. Majas ini ada 2 macam, yakni sinekdok pars pro toto serta sinekdok totem pro parte.

Majas Sinekdok pars pro toto

Majas ini menggunakan sebagian kecil dari hal yang besar untuk menyatakan keseluruhannya. Berikut contoh kalimat dengan majas pars prototo.

Contoh Majas Sinekdok Pars Pro Toto:
  1. Para anggota Pramuka SMK N 1 Slawi memborong piala untuk sekolahnya.
  2. Seorang pemasar pakaian wanita menjual produknya dari pintu ke pintu.
  3. Sudah seminggu, Anto tidak kelihatan batang hidungnya.
  4. Setiap acara peringatan hari kemerdekaan, setiap kepala dikenakan iuran sebesar Rp50.000.
  5. Setiap tahun, seribu batang pohon di hutan semakin berkurang.
Majas Sinekdok Totem pro parte (total mewakili part/ sebagian)

Majas ini adalah kebalikan dari pars pro toto, yaitu berupa gaya bahasa yang menunjukkan keseluruhan bagian untuk mewakili sebagian benda atau situasi saja.

Contoh Majas Sinekdok Sinekdok totem proparte:
  1. Indonesia menjadi wakil asia tenggara dalam liga sepak bola internasional.
  2. Jepang berhasil mengalahkan Thailand dalam pertandingan bola voli itu.
  3. Sekolahku berhasil menjadi pemenang lomba cerdas cermat di Jakarta.

16. Majas Eufimisme

Majas eufimisme merupakan gaya bahasa untuk mengganti ungkapan kasar menjadi lebih halus dan sopan. Biasanya, majas ini digunakan dalam mengungkapkan sesuatu terkait orang yang lebih tua atau disegani.

Contoh Majas Eufimisme:
  1. Sudah lama, Dila menjadi relawan di lembaga swadaya masyarakat untuk menangani anak-anak tuna netra.
  2. Dia menjadi pramusaji di kapal pesiar yang berlayar ke Korea Selatan.
  3. Pejabat itu menggunakan rompi oranye saat aku melihatnya di kantor kepolisian.
  4. Akhirnya, polisi membongkar kedok paranormal berumur 70 tahun itu.
  5. Ia bekerja sebagai pramuniaga di Jakarta.

B. Majas Pertentangan

Ciri khas majas pertentangan, yakni kalimat yang disampaikan memiliki kesan berbeda dari kenyataan sebenarnya. Dalam hal ini, majas pertentangan dibedakan menjadi enam jenis, yaitu paradoks, litotes, antitesis, kontradiksi, oksimoron, dan antifrasis. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

1. Majas Paradoks

Majas paradoks digunakan untuk mengungkapkan kondisi asli dengan situasi kebalikannya dalam satu kalimat. Contoh kalimatnya seperti di bawah ini.

Contoh Majas Paradoks:
  1. Entah apa sebabnya, ia tampak kacau di tengah kedamaian desanya.
  2. Ironis, banyak masyarakat miskin yang hidup di negeri kaya raya ini.
  3. Ibu baru datang kemari ketika teman-temanku mulai pergi dari sini.
  4. Nenek tetap bertahan di sini, meskipun saudara-saudaranya sudah pergi meninggalkan rumah ini.
  5. Pak Ilham sudah tua, tetapi semangat kerjanya masih seperti anak muda.
  6. Raganya tampak sehat, tetapi pikirannya sakit.

2. Majas Litotes

Majas litotes biasanya dipakai untuk membuat ungkapan yang merendahkan diri atau menurunkan derajat lawan bicara. Secara keseluruhan, majas litotes terdengar berlebihan dan bertentangan dengan kenyataan. Di bawah ini contoh kalimat yang mengandung majas litotes.

Contoh Majas Litotes:
  1. Rudi hanya pekerja intelek yang setiap hari makan nasi putih dan garam.
  2. Saya bisa masuk ke universitas nomor satu di dunia dengan otak tumpul.
  3. Hiburan kami di rumah hanya sebuah televisi butut.
  4. Aku hanya orang biasa yang ingin melamar bidadari jelita sepertimu.
  5. Terimalah hadiah yang tidak seberapa ini.
  6. Di kota besar ini, kami hidup seadanya.
  7. Penghargaan ini terlalu luar biasa untuk orang yang tidak bisa apa-apa seperti saya.
  8. Kami bersyukur karena usaha kecil-kecilan ini bisa menghasilkan sebuah mobil.
  9. Selamat datang di gubuk kami, semoga kamu betah di sini.

3. Majas Antitesis

Majas antitesis hampir mirip dengan paradoks. Pasalnya, majas ini dipakai untuk memadukan dua kata yang maknanya berbeda. Supaya tidak keliru, berikut contoh majas antitesis.

Contoh Majas Antitesis:
  1. Baik buruknya wajah seseorang tidak menjadi tolok ukur keimanannya.
  2. Naik turunnya siklus kehidupan kadang memengaruhi daya juang seseorang.
  3. Untung rugi bisnis tetap harus dihitung untuk bahan evaluasi tahun depan.
  4. Kuat lemahnya seseorang tidak hanya diukur dari fisik, tetapi juga mentalnya.
  5. Tajam tumpulnya otak seseorang tergantung kemauan belajarnya.
  6. Berat ringan bebanmu harus kau bagi dengan pasangan.

4. Majas Kontradiksi interminus

Jika Anda ingin menyangkal ujaran yang sudah dijelaskan sebelumnya, bisa menggunakan majas ini. Contohnya seperti di bawah ini.

Contoh Majas Kontradiksi interminus:
  1. Sekolahku memiliki aturan ketat soal kehadiran. Siapa pun tidak boleh izin, kecuali sedang sakit dan memiliki surat keterangan dokter.
  2. Bunga-bunga di taman itu tampak segar dan indah, kecuali yang letaknya di pojok terlihat layu.
  3. Semuanya sudah siap kecuali Siti.
  4. Pengunjung dilarang masuk ke ruangan itu, kecuali yang berkepentingan.
  5. Harga BBM naik, kecuali Pertamax.
  6. Setiap hari, ibu pergi ke pasar, kecuali ketika sedang tidak enak badan.
  7. Semua anak di kelas ini lulus Ujian Nasional, kecuali Dika.

5. Majas Oksimoron

Majas oksimoron merupakan paradoks yang berada dalam satu frasa. Berikut contoh kalimatnya.

Contoh Majas Oksimoron:
  1. Hubungan Dita dan Andi tidak pernah tampak akur, tetapi selalu saling tolong, ibarat benci tapi cinta.
  2. Kamu telah berjanji akan melewati semua ini dalam keadaan suka dan duka bersama-sama.
  3. Jangan lupa bersyukur kepada-Nya, baik saat senang maupun sedih.
  4. Tetaplah bersyukur kepada-Nya, baik saat senang ataupun sedih.
  5. Mereka semua berjanji akan melewati semua ini dalam keadaan suka maupun duka.
  6. Demi keluarganya sang Ayah harus selalu tersenyum di atas kepedihannya sendiri.
  7. Dengan usianya yang hampir lima puluh tahun dia sudah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan.
  8. Sejak beberapa tahun belakangan ini karirnya di dunia hiburan mulai naik tenggelam.

6. Majas Antifrasis

Jenis majas pertentangan ini mirip ironi. Bedanya, majas antifrasis menggunakan satu kata untuk menyatakan makna kebalikan. Tujuan penggunaan majas antifrasis untuk menjatuhkan mental objek yang dibicarakan. Contoh kalimatnya berikut ini.

 Contoh Majas Antifrasis:
  1. Dika menerima pujian dari orang-orang karena perbuatan memalukan tempo hari.
  2. Anda memang orang mulia dan terhormat sehingga mereka enggan bertemu dengan Anda.
  3. Dia siswa paling rajin di kelas ini, masuk sekolah tepat jam 7.05 pagi.
  4. Indra memang pintar, mengerjakan satu soal matematika selama dua jam.
  5. Anita anak yang jujur sehingga tidak seorang pun percaya padanya.
  6. Rambut laki-laki itu sangat rapi sehingga menutupi kedua mata dan telinganya.

C. Majas Sindiran

Dilihat dari namanya, majas sindiran bertujuan untuk menyindir pendengar atau pembaca sebuah tulisan. Biasanya, pengguna majas ini ingin mengubah perilaku seseorang; dari buruk ke baik. Ada lima jenis majas sindiran yang digunakan; berikut penjelasannya.

1. Majas Sinisme

Majas sinisme menggunakan kata yang menyindir langsung pada pelaku. Misalnya, dengan kalimat, “Kamu malas sekali, kamarmu seperti kapal pecah.”

Contoh Majas Sinisme:
  1. Kamu malas sekali, kamarmu seperti kapal pecah.
  2. Siapa yang mau percaya dengan pendusta sepertimu?
  3. Tidak ada orang yang berteman dengan orang sombong seperti Anda.
  4. Kamu pelit sekali, pinjam uang Rp10.000 saja tidak boleh.
  5. Teganya dirimu meninggalkanku sendirian di sini.
  6. Usia Anda sekarang memasuki 50 tahun, apa belum bisa mengontrol emosi?

2. Majas Ironi

Ungkapan dengan majas ironi lebih halus daripada sinisme. Majas ironi menggunakan kata-kata sopan yang bermakna kebalikan. Contoh kalimat seperti di bawah ini.

Contoh Majas Ironi:
  1. Kamu cerdas sekali sampai tidak lulus ujian skripsi dua kali.
  2. Tulisan anak itu sangat bagus sehingga gurunya memberi nilai enam.
  3. Sup buatannya enak seperti rasa air laut.
  4. Rapor Dila tampak indah dipenuhi angka merah.
  5. Tubuh anak itu beraroma wangi sehingga tidak ada orang yang tahan berada di dekatnya.
  6. Sepatu ini besar sekali sehingga tidak muat di kaki adik.

3. Majas Sarkasme

Sindiran langsung menggunakan majas sarkasme terdengar lebih frontal daripada sinisme. Pengguna majas kerap memakai kata-kata kasar, seperti sampah masyarakat, penyakit masyarakat, dan racun keluarga.

Contoh Majas Sarkasme:
  1. Dia harus pergi dari desa ini karena hanya menjadi sampah masyarakat.
  2. Anda jangan menjadi penyakit masyarakat kalau tak ingin diasingkan warga sini.
  3. Sepanjang hidup, pria itu menjadi racun keluarga.
  4. Dia menipuku dengan airmata buaya.
  5. Banyak gadis yang tertipu rayuan playboy kelas teri itu.
  6. Perempuan itu tak punya hati karena membiarkan ibunya terbaring di rumah sakit.

4. Majas Satire

Anda bisa menerapkan majas satire saat ingin menertawakan gagasan dan kebiasaan.

Contoh Majas Satire:
  1. Saya tidak menyangka, dia itu serigala berbulu domba, tega menusukku dari belakang.
  2. Selama ini ucapan ibu hanya dianggap embusan angin, tidak didengarkan ataupun diikuti olehnya.
  3. Harga gula sedang mahal sehingga teh buatannya terasa pahit.
  4. Kamu sedang diet, ya? Tubuhmu tinggal kulit membalut tulang.
  5. Apakah kamu sudah tidak melihat? Meja sebesar ini bisa menyandung kakimu.
  6. Apa telingamu masih berada di tempatnya? Sejak tadi, kau diam saat bu guru memanggil.

5. Majas Innuendo

Majas innuendo dipakai untuk mengecilkan fakta yang besar. Contoh kalimatnya sebagai berikut.

Contoh Majas Innuendo:
  1. “Jangan takut, Dik. Saat disunat rasanya hanya seperti digigit semut.”
  2. Kamu tidak perlu takut, disunat rasanya hanya seperti digigit semut.
  3. Dia hanya tidak menghubungimu seharian ini, bukan satu abad, jadi tak perlu khawatir.
  4. Mereka hanya belum tahu siapa dirimu, tak perlu hiraukan omongan itu.
  5. Tidak usah merasa menjadi orang paling patah hati di dunia, kau hanya diputuskan satu orang pria.
  6. Kamu tidak perlu menangisi kepergiannya. Dia tidak pantas untuk menjadi pendampingmu.
  7. Pertengkaranmu dengannya hanya masalah sepele, bukan masalah negara yang bikin menderita rakyatnya.

D. Majas Penegasan

Majas penegasan memiliki tujuan untuk memengaruhi pembaca atau pendengar agar sepakat dengan ujaran yang disampaikan. Ada tujuh macam majas penegasan, yaitu repetisi, pleonasme, retorika, klimaks, antiklimaks, tautologi, dan paralelisme.

1. Majas Repetisi

Majas repetisi merupakan ungkapan untuk mengulang kata yang terdapat dalam kalimat.

Contoh Majas Repetisi:
  1. Ida cerdas, Ida baik, Ida adalah sahabatku.
  2. Ini adalah lukaku, lukamu, luka kita.
  3. Cinta adalah ketulusan, cinta adalah kepercayaan, cinta adalah pengorbanan.
  4. Selamat jalan saudaraku, selamat jalan teman curhatku.
  5. Aku mencintaimu, Aku mengharapkanmu, Aku menginginkanmu.
  6. Duka adalah pelajaran, duka adalah ketabahan, duka adalah kesabaran.

2. Majas Pleonasme

Tujuan majas pleonasme adalah mengulang kata yang memiliki makna sama.

Contoh Majas Pleonasme:
  1. Kelinci itu naik ke atas kandang.
  2. Kakak mundur ke belakang
  3. Adik turun ke bawah untuk menemui kawan-kawannya.
  4. Ayo, angkat ke atas bersama-sama agar lebih ringan!
  5. Semua siswa bergeser ke samping untuk merapikan barisan.
  6. Dia menambahkan gula manis ke dalam kopi.

3. Majas Retorika

Majas retorika adalah gaya bahasa untuk menegaskan suatu hal dalam bentuk kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban. Contohnya berikut ini.

Contoh Majas Retorika:
  1. Kapan aku memintamu untuk melamarku secepat ini?
  2. Siapa yang memintamu untuk mencintaiku?

4. Majas Klimaks

Majas klimaks menegaskan sesuatu dari level rendah ke tinggi. Kalimatnya seperti berikut ini.

Contoh Majas Klimaks:
  1. Anak zaman sekarang harus menempuh pendidikan dari TK, SD, SMP, sampai SMA untuk bekal di masa depan.
  2. Pihak universitas akan memberi beasiswa bagi mahasiswa yang mendapat IPK cumlaude dari peringkat 1 sampai 10.
  3. Susu ini sangat cocok untuk anak berusia 1 sampai 5 tahun.
  4. Setiap bulan, dari Juni sampai Desember, Dina selalu izin kerja.
  5. Dia terkesima dengan pertunjukan itu sehingga menyaksikan dari awal sampai akhir.
  6. Dia bekerja dari pagi hingga malam sehingga merasa lelah.

5. Majas Antiklimaks

Kebalikan dari majas klimaks,  antiklimaks mengungkapkan sesuatu dari level tertinggi ke rendah secara berurutan.

Contoh Majas Antiklimaks:
  1. Semua penduduk, tua muda, berbondong-bondong menuju halaman kantor kecamatan untuk mengambil daging kurban.
  2. Berat badannya turun dari 70 ke 65 kilogram.
  3. Dari hujan deras sampai hujan mereda, Andi menunggu Dina di halte bus.
  4. Rapat itu dihadiri ketua RT, ketua RW, lurah, dan camat dari seluruh kabupaten.
  5. Dari mulai pemain level profesional sampai amatir, tidak mau ketinggalan kompetisi basket tahun ini.
  6. Menjelang pergantian tahun, semua orang menghitung mundur dari 10 sampai 1 untuk meluncurkan kembang api.

6. Majas Tautologi

Majas tautologi digunakan untuk menyatakan kondisi tertentu dengan kata bermakna sama. Misalnya : sunyi dan senyap, sayang dan cinta, serta hening dan tenang.

Contoh Majas Tautologi:
  1. Dila cemas dan gelisah menanti adiknya pulang sekolah.
  2. Hati gadis itu hancur luluh lantak saat diputus pacarnya.
  3. Meski duka dan merana menggelayuti, kamu harus tetap tersenyum.
  4. Malam ini sunyi dan senyap, tidak ada suara burung hantu maupun jangkrik.
  5. Wajah wanita itu cantik jelita.
  6. Tubuhmu kuat, kekar, dan kokoh.

7. Majas Paralelisme

Majas paralelisme banyak digunakan dalam puisi. Biasanya, untuk mengulang kata dengan tujuan menegaskan.

Contoh Majas Paralelisme:
  1. Dia lebih bijak karena sudah merasakan manis dan pahitnya kehidupan.
  2. Kecantikan tidak ditentukan dari rambut panjang dan pendek, melainkan dari hati.
  3. Jauh atau dekat, aku tetap mencintai pria itu.
  4. Kamu tidak boleh putus asa meskipun peringkat di kelas naik turun.
  5. Bumi berputar terus tanpa henti mengelilingi matahari.
  6. Kamu tidak pernah menepati janji, baik di musim kemarau maupun penghujan.
  7. Cinta itu suci, cinta itu abadi dan tidak pernah menyakiti.

Demikian ulasan seputar pengertian majas dan jenis-jenisnya. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan bahan rujukan dalam edukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.