Langkah-langkah Penelitian Sejarah Lengkap

Langkah-langkah Penelitian Sejarah Lengkap

Mempelajari sejarah memang cukup rumit karena kita tidak tahu kejadian tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Namun, yang lebih sulit lagi adalah mencari kebenaran sejarah dengan penelitian.

Hasil dari penelitian tersebutlah yang menentukan benar atau tidaknya suatu sejarah. Setelah itu, barulah hasil penelitian tersebut menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang disebarluaskan.

Ilmu pengetahuan itu sendiri memiliki ciri-ciri yaitu sistematis, metode penelitiannya efektif, memiliki objek kajian, rumusan kebenaran, objektif dan memberikan pemikiran. Nah, metode-metode inilah yang secara umum dianggap sebagai langkah untuk menerangkan objek kajian, begitu pula dengan sejarah.

Langkah-langkah Penelitian Sejarah

Adanya langkah-langkah penelitian sejarah ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang paling mendekati dengan kebenaran. Karena itu, penelitian sejarah yang memiliki kesalahan dalam langkah-langkah penelitianya juga dianggap memiliki nilai kebenaran yang lemah.

Berikut ini langkah-langkah yang digunakan pada proses penelitian sejarah, yaitu:

1. Mencari dan Memilih Topik

Dalam penelitian apapun, hal pertama yang perlu dilakukan pastilah mencari dan memilih topik. Mencari topik penelitian bertujuan agar proses penelitian menjadi lebih fokus dan terarah pada masalah yang sesuai dengan topik yang dipilih.

Pemilihan topik harus benar-benar diperhatikan agar layak dijadikan penelitian dan bukan hasil duplikasi dari penelitian orang lain. Untuk itu, bisa menggunakan cara di bawah ini:

  • What atau Apa yang akan diteliti atau dijadikan objek penelitian
  • Who atau Siapa yang akan diteliti atau menjadi narasumber untuk mencari informasi seputar objek penelitian dan yang berhubungan dengan itu
  • Where atau Dimana penelitian akan dilakukan, dalam hal ini berkaitan dengan tempat-tempat yang berhubungan langsung dengan objek sejarah secara nyata/real
  • When – Kapan penelitian tersebut dilakukan atau kapan kejadian/objek sejarah tersebut terjadi

Menurut Kuntowijoyo (1995), pemilihan topik perlu didasarkan pada pendekatan emosional dan juga intelektual. Kuntowijoyo mengatakan bahwa ada empat macam kriteria yang perlu diperhatikan saat memilih topik, antara lain:

  • Pertama, memiliki nilai, artinya mampu memberikan penjelasan terhadap sesuatu yang berarti atau bernilai
  • Kedua, asli dan belum pernah diteliti, jika memang sudah pernah maka harus ada evidensi baru yang substansial dan signifikan
  • Ketiga, memperhatikan kepraktisan dalam keberadaan, ruang lingkup dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber yang bersangkutan dengan sebaik-baiknya
  • Keempat, adanya kesatuan tema yang memberikan sebuah titik tolak, arah, fokus dan tujuan tertentu

2. Heuristic (Mengumpulkan Sumber)

Setelah menentukan topik, langkah berikutnya adalah heuristic. Heuristic adalah tahap-tahap untuk melakukan mencari, menemukan dan mengumpulkan berbagai sumber informasi berupa data atau lainnya yang relevan dengan topik.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui dengan jelas segala bentuk kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lampau. Secara etimologi, kata heuristic itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu heurishein yang artinya menemukan/memperoleh.

Menurut G. J. Reiner (1997), Heuristic adalah sebuah teknik yang dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan sumber. Seorang peneliti harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup baik terhadap topik penelitian dan informasi mengenai peristiwa atau kejadian tertentu.

Hal ini karena data atau sumber sejarah yang didapatkan dari dokumen-dokumen tersebut biasanya terdiri dari berbagai macam informasi di dalamnya. Seperti yang diketahui bahwa jejak-jejak sumber atau peristiwa sejarah tersebut sangat beragam dan sejarah pun terdiri dari banyak periode.

Selain itu, banyak pula bidang-bidangnya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, militer dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk mempermudah penelitian, perlu dilakukan upaya dalam penggolongan dan klasifikasi terhadap sumber atau jejak sejarah yang dikumpulkan.

Untuk mengklasifikasikannya, kita bisa membagi sumber atau data tersebut ke dalam dua jenis seperti di bawah ini:

a. Sumber Sejarah Primer

Sumber sejarah primer merupakan suatu dokumen atau data-data asli yang valid dan biasanya dibuat pada saat peristiwa tersebut terjadi. Dengan kata lain dibuat oleh tangan pertama atau yang pertama kali membuat sumber suatu peristiwa atau kejadian bersejarah.

b. Sumber Sejarah Sekunder

Sumber yang kedua adalah sumber sekunder yang dibuat dengan mengacu pada data-data sumber yang pertama yaitu sumber primer. Sumber primer biasanya dibuat saat peristiwa sedang terjadi atau tidak lama setelahnya dan memiliki tingkat kebenaran yang tinggi.

Sedangkan sumber sekunder dibuat oleh tangan kedua dan jauh setelah kejadian tersebut berlangsung sehingga kebenarannya perlu diteliti lagi. Sumber sekunder ini contohnya seperti skripsi, buku, tesis dan lain sebagainya. Ada lagi yang dinamakan sumber lisan yang saksi mata atas kejadian atau peristiwa tertentu.

Sumber lisan dari orang yang tidak melihat langsung atau tidak sezaman dengan peristiwa yang bersangkutan tidak layak disebut sumber lisan.

Cara-cara yang bisa digunakan dalam metode heuristic adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan metode kepustakaan dengan mencari dari sumber-sumber arsip nasional
  • Melakukan kunjungan ke situs-situs bersejarah
  • Melakukan wawancara dengan narasumber yang bersangkutan untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan agar lebih lengkap yang mendekati kebenaran

Selain itu, ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan saat proses pengumpulan data (heuristic), antara lain:

  • Corroboration yaitu membandingkan data yang ada dan menentukan apakah informasinya sama atau tidak, hal ini dilakukan untuk proses verifikasi data
  • Sourcing yaitu melakukan identifikasi terdapat sumber atau data dari informasi penulis, tanggal dan tempat dibuatnya sumber/data tersebut
  • Contextualization yaitu melakukan identifikasi mengenai waktu dan tempat terjadinya suatu peristiwa atau kejadian bersejarah tersebut

3. Verifikasi atau Kritik Sumber

Proses selanjutnya adalah melakukan verifikasi atau kritik terhadap sumber atau data yang diperoleh untuk menguji keaslian dan kebenarannya. Proses verifikasi atau kritik sumber itu sendiri terbagi menjadi dua macam, antara lain:

a. Verifikasi Eksternal

Verifikasi eksternal dilakukan untuk melihat keaslian atau keabsahan dari sebuah sumber sejarah. Hal ini bisa diketahui dengan mencari tahu penulis, tanggal pembuatan, gaya bahasa dan penulisan, usia dan bahan kertas dan lainnya.

b. Verifikasi Internal

Verifikasi internal dilakukan untuk melihat kredibilitas isi atau konten yang ada pada sumber tersebut. Hal ini bisa diketahui dengan melihat isi/informasi dari sumber/penulis tersebut bisa dipercaya atau tidak dan lain sebagainya.

Verifikasi atau kritik sumber tersebut dilakukan dengan langkah-langkah penelitian sejarah intrinsik terhadap sumber dan membandingkan dengan kesaksian yang ada. Langkah-langkah intrinsik tersebut antara lain:

  • Menentukan sifat sumber yaitu resmi/tidak resmi, sumber tidak resmi dinilai lebih berharga karena lebih objektif, terus terang dan apa adanya
  • Menyoroti penulis sumber apakah Ia bisa dipercaya atau tidak
  • Membandingkan kesaksian atau informasi dari berbagai sumber yang tidak saling berhubungan (independent witness)

Setelah dilakukan verifikasi atau kritik sumber akan dipilih beberapa sumber yang diakui kebenarannya dan dianggap sebagai fakta. Proses verifikasi menjadi sangat penting dilakukan dalam menentukan keaslian/keabsahan dan kredibilitas sumber sejarah agar tidak terjadi kekeliruan atau kesalahan.

Menurut Gilbert J. Garaghan (1957) adanya kekeliruan saksi ini dapat disebabkan karena dua hal, antara lain:

  • Kekeliruan saksi dalam memberikan penjelasan atau menginterpretasikan dan mengambil sebuah kesimpulan dari sumber sejarah tertentu
  • Kekeliruan sejak awal yaitu mengenai kesalahan dalam mengambil sumber formal yang digunakan dalam proses penelitian

Kekeliruan ini bisa karena disengaja atau para saksi terbukti tidak jujur, tidak cermat ataupun tidak mampu memberikan penjelasan yang benar.

4. Interpretasi atau Penafsiran

Interpretasi dilakukan untuk mendapatkan fakta yang logis dan sesuai dengan konteks peristiwa secara menyeluruh dan menjadi satu kesatuan yang harmonis. Interpretasi atau penafsiran tersebut harus dilakukan secara objektif, deskriptif dan selektif dengan penjelasan seperti berikut ini:

  • Objektif maksudnya adalah penafsiran yang dilakukan fakta yang ada tanpa adanya unsur pendapat pribadi yang bersifat subjektif
  • Deskriptif maksudnya adalah penafsiran yang dilakukan harus memiliki landasan yang jelas dan tepat
  • Selektif maksudnya berkaitan dengan pencarian dan pengumpulan sumber-sumber sejarah yang perlu disaring terlebih dahulu agar relevan dengan objek penelitian

5. Historiografi

Historiografi merupakan kegiatan merangkap dan menulis sejarah, sekaligus tahap paling akhir dalam langkah penelitian sejarah. Secara Etimologi, historiografi berasal dari kata historia yang berarti sejarah dan graphia yang artinya penulisan. Bentuk-bentuk historiografi adalah sebagai berikut:

  • Narasi yang isinya lebih banyak bercerita sesuai dengan informasi dari sumber sejarah
  • Deskriptif yang isinya jauh lebih kompleks dan detail daripada bentuk narasi
  • Analitis yang isinya lebih detail lagi dan lebih banyak berorientasi pada penelaahan masalah/topik tertentu

Historiografi terdiri dari latar belakang, kronologi kejadian/peristiwa, analisis sebab akibat, uraian tentang hasil penelitian, dampak dan berakhir dengan kesimpulan. Historiografi terbagi menjadi dua macam, antara lain:

a. Historiografi Naratif

Historiografi naratif yaitu penulisan sejarah yang bercerita tentang rekaman kejadian/peristiwa atau tindakan pelaku sejarah secara pribadi dalam kurun waktu tertentu.

b. Historiografi Structuralist

Historiografi structuralist yaitu penulisan sejarah yang bercerita tentang perubahan di masyarakat yang terjadi karena suatu kejadian atau peristiwa. Historiografi ini biasanya disebut juga dengan sejarah sosial.

Untuk menulis sejarah harus memiliki kecakapan dan kemahiran tertentu agar dapat memberikan pemahaman baru yang bermakna kepada pembaca. Penulisan atau historiografi juga harus ditulis menggunakan bahasa yang informatif dan komunikatif agar bisa dimengerti dan dipahami oleh pembaca.

Ada beberapa hal utama yang harus diperhatikan saat melakukan proses historiografi, antara lain:

  • Perlu memperhatikan dari segi kecermatan dan ketelitian dalam penyusunan kronologi kejadian atau peristiwa sejarah yang ditulis
  • Penafsiran sejarah harus dilakukan dengan se objektif mungkin, jangan sampai terlalu subjektif dan mengedepankan pendapat pribadi daripada fakta di lapangan
  • Penulisan sejarah atau historiografi harus memperhatikan kaidah atau standar bahasa dan penulisan, informatif dan komunikatif agar mudah dimengerti oleh pembaca
  • Benar-benar memperhatikan dan memilih atau menyaring informasi mana saja yang patut atau dianggap penting untuk dicatat
  • Selalu memperhatikan banyak hal dan menghubungkan peristiwa atau kejadian-kejadian yang satu dengan yang lainnya melalui berbagai macam sumber yang berbeda

Penulisan Sejarah Berdasarkan Ruang dan Waktu

Hasil penelitian berupa penulisan sejarah terbagi menjadi tiga bentuk berdasarkan ruang dan waktunya, antara lain:

1. Penulisan Sejarah Tradisional

Penulisan sejarah dalam bentuk tradisional ini lebih ditekankan pada penggunaan atau sebagai bahan pengajaran agama. Kebanyakan karya penulisan sejarah tradisional ini kuat dalam hal genealogi, namun tidak kuat dalam hal kronologi dan juga detail geografis.

Biasanya bercirikan dengan adanya kingship (konsep tentang raja), pertimbangan kosmologi dan antropologi lebih diutamakan daripada keterangan sebab akibat.

2. Penulisan Sejarah Kolonial

Berbeda dengan bentuk penulisan sejarah tradisional, bentuk kolonial lebih mengarah atau memiliki ciri-ciri eropa sentris atau Nederland o sentris. Penulisannya lebih ditekannya pada aspek politik dan ekonomi, serta bersifat institusional. 

3. Penulisan Sejarah Nasional

Yang ketiga yaitu bentuk penulisan sejarah nasional yang ditulis dengan menggunakan metode penelitian ilmiah secara terampil. Hal ini dilakukan untuk tujuan atau kepentingan nasionalisme.

Kesimpulan yang bisa diambil bahwa setiap peristiwa sejarah harus dilakukan penelitian terlebih dahulu agar informasinya valid dan dapat dipercaya. Langkah penelitian sejarah bisa dilakukan dengan lima cara yaitu mencari dan memilih topik, mengumpulkan sumber (heuristic), verifikasi/kritik, interpretasi/penafsiran dan Historiografi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.