Candrasa, Pengertian, Sejarah dan Fungsinya

Kita sudah sepatutnya bersyukur karena hadir di jaman serba mudah dengan teknologi yang makin memanjakan hidup kita. Bayangkan bila kita masih di jaman prasejarah, di mana segala peralatan dan makanan masih serba terbatas.

Menjelang tahun 3000 SM merupakan awal pergantian dari jaman batu ke jaman logam. Pada jaman logam inilah banyak perkakas yang dibuat oleh manusia, salah satunya adalah bernama candrasa.  Apakah itu candrasa, sejarah dan fungsinya? Berikut ini akan dibahas lebih dalam tentang benda peninggalan pra sejarah ini.

Pengertian Candrasa

Candrasa adalah benda prasejarah yang ditemukan di jaman logam, terbuat dari perunggu, yang secara tipologis masuk pada golongan kapak upacara. Hal ini karena bentuknya yang indah, unik, berpola hias geometris pada tangkainya, juga berbentuk lebih pendek dan melebar ke bagian pangkalnya.

Jika lebih seksama diperhatikan ditandai pula dengan mata kapaknya yang tipis berujung melebar dan melengkung ke dalam, sehingga bila dilihat secara keseluruhan desainnya cenderung berbentuk tidak simetris dan pipih.

Candrasa ada juga  yang sangat khas bentuk guratannya, berbentuk  detil, dengan ornamen burung yang kakinya sedang mencengkeram.

Fungsi Candrasa

Jika ditinjau dari tipe peralatan yang dihasilkan di jaman logam pada jaman prasejarah, khususnya peralatan perunggu, ada dua jenis kapak, yaitu Kapak corong/sepatu dan kapak upacara.

Nah, candrasa ini termasuk pada kapak upacara karena kapak jenis ini dipakai sebagai sarana melakukan upacara ritual adat yang berhubungan dengan aliran kepercayaan atau sistem perayaan adat.

Bahkan beberapa ahli mengemukakan bahwa kapak jenis ini pernah dipakai oleh Prabu Dasamuka, raja kerajaan Alengka. Jelas di sini fungsi dari candrasa adalah sebagai tanda kebesaran bagi penguasa/ketua suku di jaman itu.

Tempat Penemuan Candrasa

Candrasa ini adalah termasuk kapak corong namun dengan guratan yang spesial dan artistik. Kapak perunggu jenis ini pernah ditemukan oleh warga di daerah dusun Badran, Kecamatan, Batuwarno, Wonogiri, Jawa Tengah. 

Casandra juga pernah ditemukan di daerah Bandung, Jawa Barat bahkan sudah tersimpan di museum. Candrasa juga pernah ditemukan di Yogyakarta dan Pulau Roti, daerah di Nusa Tenggara.

Bahkan ada juga ditemukan kapak candrasa ini di Sumatra Selatan, Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selayar, dan Irian dekat Danau Sentani.

Hasil Kebudayaan Zaman Logam

Semakin jaman berganti, pemikiran manusia juga semakin maju dan berkembang, demikian pula pada masa jaman prasejarah kala itu. Semula manusia hanya memanfaatkan barang yang sudah ada, seperti batu dan kayu untuk membantu kebutuhan hidupnya.

Namun setelah ditemukan logam, perlahan manusia mulai membuat benda dari logam pula. Adapun hasil kebudayaan pada zaman logam/ perunggu adalah:

1. Kapak Corong

Hampir serupa dengan kapak batu, jenis kapak di jaman logam ini mempunyai bentuk seperti corong pada tangkainya yang kemudian disematkan pada kayu. Kapak ini juga dikenal dengan nama kapak sepatu, karena bentuknya yang mirip sepatu sementara tangkai kayu yang disematkan ibarat kakinya.

Candrasa tergolong pada kapak corong namun bentuk dan fungsinya berbeda. Sehingga banyak ahli yang menggolongkan tipe kapak corong ini, menjadi beberapa tipe.

Kapak yang fungsinya untuk berburu, bercocok tanam, dan perkakas adalah tipe kapak sepatu sementara kapak yang digunakan untuk keperluan adat adalah kapak candrasa.

2. Nekara

Nekara adalah benda prasejarah yang dianggap suci dan sebagai simbol status sebuah suku.  Fungsi dari alat ini cukup penting, dimulai untuk sebagai alat tabuh pemanggilan arwah nenek moyang, sebagai penabuh genderang perang. Bahkan untuk menandai acara sakral semacam permohonan turunnya hujan.

Intinya, alat ini selalu dilibatkan dalam prosesi berbau mistis dan adat kesukuan. Bentuk nekara beragam, ada yang besar dan tinggi, ada pula yang sedang, tergantung tempatnya.

Yang berbentuk seperti berumbung, dinamai sebagai genderang nobat atau ketel, bentuknya berpinggang dan bagian atasnya dibuat tertutup. Nekara pernah ditemukan di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Sangean, Roti, Kei, dan Pulau Selayar.

3. Arca perunggu

Arca atau patung perunggu pada jaman logam mempunyai bentuk yang beraneka ragam, dan kebanyakan menyerupai makhluk hidup seperti manusia atau binatang.

Arca ini bentuknya kecil disertai dengan cincin sebagai pengaitnya sehingga tidak menutup kemungkinan dijadikan liontin pada perhiasan, atau bandul kalung. Arca perunggu pernah ditemukan  di Bangkinang daerah Riau, Palembang, dan Limbangan (Bogor, Jawa Barat).

4. Bejana Perunggu

Bentuk dari bejana yang terbuat dari perunggu ini seperti periuk namun lebih ramping dan gepeng. Bejana ini mempunyai hiasan yang bercorak indah berbentuk pilin dan nuansa geometri. Fungsinya bermacam-macam, bisa untuk tempat minum, dan piranti upacara keagamaan.

5. Perhiasan Perunggu

Pada jaman logam, khususnya perunggu, sudah ditemukan aneka bentuk perhiasan pula. Jenis perhiasan yang terbuat dari perunggu juga bervariasi, ada kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung, cincin, liontin, dan laian-lain.

Daerah yang pernah ditemukan perhiasan perunggu adalah di Jawa barat (Bogor), Jawa Timur (Malang) dan Bali.

6. Manik manik

Manik-manik yang berasal dari jaman perunggu ini bukan terbuat dari perunggu saja namun dari kaca, batu, kulit kerang, batu mulia ( semacam akik), atau tanah liat yang dibakar.

Fungsi manik-manik ini adalah untuk perbekalan kubur (disematkan pada peti mati orang  yang meninggal) maka dari itu, manik-mani ini dibuat spesial dan bercorak khas. Selain untuk bekal kubur manik-manik ini juga digunakan sebagai perhiasan.

7. Perahu

Perahu peninggalan jaman perunggu ini terbuat dari batang pohon, yang kemudian dikeruk kayunya sehinga berbentuk cekung seperti lesung. Tentu saja dengan bentuk yang jauh lebih sederhana dibanding yang sekarang.

Benda-benda pra sejarah yang berhasil diteliti dan ditemukan oleh para arkeolog menjadi saksi bisu semakin berkembangnya pola fikir dan kemampuan manusia. Artefak, situs sejarah, dan benda-benda peninggalan sejarah tersebut menjadi pembelajaran yang tak ternilai untuk dilestarikan.

Tinggalkan komentar