Bhinneka Tunggal Ika : Arti, Makna, Sejarah, Tujuan, Contoh

Indonesia memiliki keragaman yang sangat tinggi. Bahkan bumi pertiwi tempat kita tinggal merupakan negara dengan tingkat keragaman terbesar di dunia. Tentu saja semboyan Bhinneka Tunggal Ika tak hanya sebatas simbol negara.

Ada peran besar dari semboyan negara ini dalam menyatukan beragam perbedaan yang dimiliki Indonesia. Berikut ulasan lengkap mengenai arti, makna, sejarah, tujuan, hingga contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika .

Arti Bhinneka Tunggal Ika Adalah

Secara singkat, Bhinneka Tunggal Ika bisa diartikan sebagai moto atau semboyan yang diambil dari frasa bahasa Jawa kuno. Jika diartikan secara luas, semboyan tersebut memiliki cakupan kepada seluruh bangsa Indonesia. Walaupun terpisah satu tempat dengan yang lain, namun semuanya harus tetap bersatu.

Bhinneka Tunggal Ika secara harafiah berarti “Beraneka satu itu”. Namun jika dilihat secara universal, Bhinneka Tunggal Ika dapat diartikan sebagai “Berbeda tetapi tetap satu jua”. Pada masa kemerdekaan, semboyan tersebut memiliki arti yang lebih besar lagi karena menjadi salah satu tonggak berdirinya NKRI.

Semboyan yang diambil dari kitab Sutasoma tersebut digunakan untuk menyatukan perbedaan agama, suku, bahasa, dan kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Meskipun secara kata terbilang sederhana, namun semboyan tersebut telah sangat erat dengan nusantara. Dengan kekuatanya semboyan tersebut dapat mempersatukan bangsa dengan wilayah yang luas.

Alasan mengapa semboyan tersebut diambil sebagai salah satu pilar negara adalah kondisi nusantara terpisah-pisah secara pulau. Belum lagi dari segi budaya dan suku juga memiliki perbedaan yang sangat beragam. Maka semboyan tersebut sangat tepat diterapkan di bumi pertiwi.

Semboyan negara ini juga memiliki yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mencintai, mengakui, serta menghargai adanya keanekaragaman jauh sebelum nama Indonesia digagas. Keanekaragaman bukanlah pemicu kehancuran, ketegangan, dan keretakan.

Melainkan menjadi alat pemersatu bangsa dimana semuanya dapat terwujud jika kita melakoni apa yang tersirat dan tersurat dalam semboyan bangsa ini.

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika termuat dalam kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Karya sastra tersebut sudah ada sejak abad ke-14 pada masa Kerjaan Majapahit. Karya sastra tersebut memiliki beberapa bait yang berisikan toleransi beragama di kala itu. Memang di era Majapahit terdapat perbedaan antara agama Budhha dan Siwa.

Hebatnya, karya sastra buatan Mpu Tantular ini juga digunakan kerajaan besar tersebut untuk menyatukan nusantara. Istilah Bhinneka Tunggal Ika dikenal pertama kalinya pada era kepemimpinan Wisnuwardhana.

Sebagai semboyan NKRI, konsep Bhinneka Tunggal Ika tak hanya fokus pada perbedaan agama. Namun artiannya lebih luas. Seperti perbedaan suku, bangsa, adat, budaya, pulau untuk menuju persatuan dan kesatuan Negara.

Usaha penyatuan pada masa Majapahit dan di era pemerintahan Indonesia dilandaskan pada kepentingan dan pandangan yang sama. Yakni pandangan mengenai semangat persatuan, kesatuan, dan kebersamaan sebagai modal untuk menegakkan negara. 

1. Secara Resmi Digunakan Pada 17 Oktober 1951

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertera pada cakar burung garuda, lambang negara Indonesia ditetapkan secara resmi menjadi salah satu bagian NKRI. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951. Selain itu tanggal 28 Oktober 1951 juga telah diundang-undangkan sebagai Lambang Negara.

Tulisan Bhinneka Tunggal Ika tertera dalam sehelai pita yang dicengkram lambang Garuda rancangan Sultan Hamid II (1913-1978). Pertama kali rancangan tersebut digunakan pada sidang kabinet Republik Indonesia Serikat 11 Februari 1950. Usulan penggunaan semboyan tersebut datang dari Moh.Yamin.

Beliau meyakini karya Mpu Tantular tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat itu. Bukan hanya perihal perbedaan kepercayaan, namun juga mencakup perbedaan sudut pandang, ideologi, ras, etnik, suku, hingga golongan. Moh.Yamin beberapa kali menyebutkan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika ” pada sidang BPUPKI yang berlangsung dari Mei sampai Juni 1945.

Menurut I Made Prabaswara, Moh.Yamin merupakan tokoh bahasa dan kebudayaan yang memiliki ketertarikan khusus dengan segala hal yang berhubungan tentang Majapahit.

Ketika menyebutkan kalimat yang saat ini menjadi semboyan negara ini, I Gusti Bagus Sugriwa tiba-tiba menyambung “Bhinneka Tunggal Ika ” dengan kalimat “Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Artinya adalah tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Dan saat ini pun kalimat Tan Hana Dharma dijadikan sebagai moto Lembaga Pertahanan Nasional.

2. Telah Melalui Proses Panjang

Sebenarnya sebelum diusulkan menjadi semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika sudah diteliti lebih dulu oleh Prof. Kerf di tahun 1888. Hasil penelitiannya kemudian disimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda.

Semboyan negara memang telah melalui perjalanan panjang. Hal ini juga berkaitan dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda menjadi salah satu bukti perilaku yang mendukung persatuan dan kesatuan bangsa serta rasa bangga memiliki tanah air Indonesia.

Disaat bangsa Indonesia tengah dipersiapkan dan memerlukan identitas, sejak berabad-abad yang lalu, Bhinneka Tunggal Ika terlahir dari pemikiran cendikiawan yang masyur nan hebat. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, namun menjadi salah satu takdir yang sangat berharga.

Makna Bhinneka Tunggal Ika

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki andil besar dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan suku dan ras yang berbeda-beda.

Perbedaan besar dan wilayah yang sangat luas membuat penyatuan Indonesia harus dilakukan dengan sebuah cara. Semboyan tersebut pun mampu menyatukan wilayah dengan latar belakang berbeda dari tiap daerah. Bahkan perannya sangat penting sebagai tonggak tercapainya tujuan bangsa.

Semboyan tersebut mengandung makna bahwa walaupun bangsa Indonesia terdiri dari memiliki suku dan budaya beragam, namun keseluruhannya merupakan satu kesatuan. Persatuan dan kesatuan tersebut ditetapkan dalam PP No. 66 Tahun 1951 mengenai lambang Negara Indonesia pada tanggal 8 November 1951.

Meskipun bangsa dan negara Indonesia memiliki banyak keragaman, namun bukanlah menjadi sebuah perbedaan yang bertentangan. Justru keanekaragaman tersebut dapat memperkaya khasanah bangsa dan mampu memperkokoh kekuatan bangsa.

Pembentuk Jati Diri Bangsa

Para pendiri bangsa sudah mencantumkan kata Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pada lambang negara Garuda Pancasila. Hal ini sudah dirumuskan sejak NKRI merdeka. Semboyan tersebut diambil dari falsafah yang diikrarkan oleh Patih Gadjah Mada di kitab Sutasoma yang berarti:

Konon dikatakan Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Namun bagaimana kita mengenali perbedaan dalam selintas pandang? Karena kebenaran yang diajarkan Siwa dan Buddha sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda, namun hakikatnya sama. Sebab tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa).

Frasa tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuna yang kemudian diartikan menjadi berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dari terjemahan itulah kalimat Bhinneka Tunggal Ika menjelma menjadi jati diri bangsa Indonesia.

Bisa kita tarik kesimpulan sejak zaman dahulu, kesadaran tentang hidup bersama dalam keragaman memang sudah tumbuh dan menjadi semangat bangsa nusantara.

Sumpah palapa berisi arti mengenai upaya untuk mempersatukan nusantara (Munandar (2004:24). Hingga kini sumpah legendaris tersebut menjadi acuan karena tak hanya berkenan dengan jati diri seseorang, melainkan dengan kejayaan suatu kerajaan. Oleh sebab itu, sumpah palapa menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan Jati Diri Bangsa Indonesia.

Sumpah palapa dianggap penting karena terdapat kalimat yang berbunyi “lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa”. Arti dari potongan sumpah tersebut adalah, “jika Nusantara telah dikuasai, maka saya melepaskan tirakatnya.” (Pradipta, 2009).

Serat Pararaton yang mengusung isi sumpah palapa tersebut, tersebut memiliki peran yang amat selaras, sebab terdapat isi dari teks Sumpah Palapa. Sebenarnya dalam kitab Pararaton tidak ada kata sumpah, hanya saja para ahli Jawa Kuno menyebutnya sebagai Sumpah Palapa secara tradisional dan konvensional.

Tjahjopurnomo pada tahun 2004 menyebutkan bahwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa. Sebab pada intinya menyangkaut dengan persatuan. Hal tersebut jua didasari oleh para pemuda yang berikrar pada saat itu.

Setelah sumpah palapa, pemuda Indonesia pada waktu itu tidak lagi memperhatikan latar budaya dan sukunya. Sebab, mereka berkemauan dan dengan sungguh-sungguh merasa mempunyai bangsa satu, yakni bangsa Indonesia.

Dengan dikumandangkannya sumpah pemuda, maka maka di nusantara sudah tak berlaku lagi ide kesukuan, kepulauan, propinsialisme, hingga federalisme. Sumpah pemuda merupakan ide kebangsaan Indonesia yang bersatu dan bulat. Selain itu, sumpah pemuda juga telah mengantarkan rakyatnya ke alam kemerdekaan.

Pada tanggal 17 Agustus 1045, kebutuhan akan persatuan dan kesatuan bangsa tampil dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara. Sejak itulah, eksistensi sumpah palapa memiliki peran kuat untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa yang utuh serta menyeluruh.

Bisa saja jika tidak ada sumpah tersebut, Indonesia dengan ribuan sukunya akan saling memisahkan diri dengan paham federalisme dan otonomi daerah yang berlebihan. Gagasan memisahkan diri sebenarnya pemikiran dari orang yang tak paham bagaimana perjuangan para pahlawan dalam melawan para penjajah.

Sebagai pembentuk jati diri bangsa, semboyan tersebut membentuk Kebhinekaan bangsa Indonesia. Adapun sejumlah kebhinekaan bangsa Indonesia meliputi:

1. Kebhinekaan Mata Pencaharian

Kondisi alam Indonesia yang beragam membuat masyarakatnya harus menyesuaikan cara hidupnya dengan alam sekitar. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan mata pencaharian. Ada yang menjadi petani, pedagang, pegawai, nelayan, peternak, dan lain sebagainya.

Kebhinekaan mata pencaharian ini dapat menjalin persatuan dan kesatuan. Sebab satu sama lain saling membutuhkan.

2. Kebhinekaan Ras

Indonesia terletak di posisi yang strategis dimana menjadi area persilangan jalur perdagangan. Banyaknya kaum pendatang menyebabkan adanya akulturasi ras, agama, hingga budaya.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika juga mencakup makna tentang menghormati antar ras dan suku serta tidak menganggap ras sendiri yang paling unggul.

3. Kebhinekaan Suku Bangsa

Kondisi nusantara yang dipisahkan oleh perairan menyebabkan sejumlah pulau terisolasi dan tidak saling berhubungan. Efeknya, tiap wilayah akan memiliki keunikan tersendiri.

Baik dari segi adat, budaya, bahasa, hingga kesenian. Hal ini tidak semata sebagai penyebab perpecahan, justru menjadi salah satu alat pemersatu bangsa.

4. Kebhinekaan Agama

Masuknya kaum pendatang sejak tempo dulu juga membawa misi menyebarkan agama yang dibawanya. Tentu saja hal ini akan menyebabkan ragamnya agama yang saat ini dianut warga negara Indonesia.

Kebhinekaan agama begitu rentan konflik. Namun tetap bisa menjadi semangat persatuan karena adanya toleransi beragama.

5. Kebhinekaan Budaya

Perbedaan budaya selain disebabkan lantaran area Indonesia yang saling terpisahkan oleh lautan, para pendatang pun memberikan peranan bagi kebhinekaan budaya.

Budaya tradisional dan modern pun saat ini saling berdampingan. Perbedaan budaya inilah yang juga membentuk jati diri bangsa Indonesia.

6. Gender/Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin merupakan sesuatu yang begitu alami dan tentunya tidak menunjukkan adanya tingkatan. Masing-masing gender memiliki peranannya serta saling melengkapi satu sama lain.

Mengingat zaman dahulu perempuan tidak diberi hak untuk mengembangkan potensinya, sekarang kesempatan yang sama sudah bisa diraih kaum perempuan.

Fungsi Bhinneka Tunggal Ika

Bangsa Indonesia telah lama hidup dalam keragaman namun perseteruan berlatar perbedaan antar rakyat tak pernah terjadi. Tentu saja hal ini tak luput dari jasa para pahlawan yang membawa Indonesia sampai seperti sekarang. Sejarah telah mencatat gemilangnya perjuangan merebut kemerdekaan.

Bahwa seluruh anak bangsa yang tergabung berlatar keragaman suku dan budaya, turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengambil perannya masing-masing. Hal ini sudah disadari oleh para pahlawan mengenai kemajemukan yang ada di dalam negeri. Kenyataan hidup di dalam keberagaman memang tak bisa dihindari.

Keragaman dalam bingkai ke-bhineka-an merupakan kenyataan yang telah ada dalam bangsa Indonesia. Sedangkan ke-Tunggal-Ika-an merupakan cita-cita kebangsaan. Semboyan inilah yang hingga saat ini digunakan sebagai jembatan emas untuk menuju pembentukan jati diri.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika ini kemudian menjadi semboyan dasar NKRI. Sebagai konsep, tentu saja semboyan tersebut layak dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa Indonesia.

Sebagai generasi bangsa, tentunya mesti menerapkan konsep semboyan negara Indonesia dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh. Terlebih saat ini kita tinggal menikmati kemerdekaan negara dengan mudah, tanpa harus mengangkat senjata atau bergerilya di hutan-hutan.

Tujuan Bhinneka Tunggal Ika

1. Mempersatukan Bangsa Indonesia

Penetapan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pondasi negara bertujuan sebagai pemersatu bangsa. Tentu hal ini tidak asing lagi mengingat tujuan utama tersebut sudah digagas sejak masa kemerdekaan. Semboyan mengenai persatuan dalam keragaman merujuk pada persatuan beragam jenis perbedaan yang ada di Indonesia.

2. Meminimalisir Konflik

Bhinneka Tunggal Ika memiliki ciri khas toleransi yang begitu besar. Semboyan ini pun bertujuan meredam konflik atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Tak ayal jika terjadi masalah atau konflik, masyarakat cenderung menyelesaikannya dengan bermusyawarah.

Adanya permusyawarahan bermanfaat untuk menghindari konflik. Musyawarah pun digelar tidak memandang atau memihak pada satu kelompok atau kepentingan saja. Melainkan mesti digelar seadil-adilnya dan tidak mendesak kelompok manapun. Konflik pun dapat diredam secara aman diantara pihak yang berseteru.

3. Mempertahankan Kesatuan Bangsa

Indonesia sangat rawan terpecah belah sehingga peran Bhinneka Tunggal Ika sangatlah penting untuk mempertahankan kesatuan bangsa. Wilayah nusantara sangat luas. Belum lagi budaya dan pemikirannya tentu berbeda satu sama lain sehingga bisa mengakibatkan rawan perpecahan.

Dengan berpegang pada semboyan “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, NKRI diharapkan tetap utuh dan tanpa perpecahan dimanapun. Bila terjadi perpecahan, daerah lainnya akan berusaha untuk mempertahankan wilayah yang akan pecah tersebut. Kerjasama inilah yang membuat Indonesia tetap utuh hingga kini.

4. Mencapai Cita-cita Negara

Semboyan karya Mpu Tantular ini ditulis di pita yang kemudian dicengkram pada cakar burung garuda. Di garuda tersebut terdapat lambang tujuan negara, pancasila. Semboyan yang berasal dari bahasa kuno ini memegang peranan penting terhadap tercapainya tujuan negara.

Motto tersebut harus kuat dan ditetapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tujuannya agar bangsa bisa mencapai cita-cita pancasila yang sudah dicantumkan sejak dulu.

5. Menciptakan Perdamaian

Konflik akan terus terjadi jika seseorang memiliki pendapat berbeda dengan lainnya. Bukan hanya perorangan, hal ini bisa terjadi pada kelompok, organisasi, bahkan wilayah. Disinilah Bhinneka Tunggal Ika berperan penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa pendapat tidak boleh dipaksakan.

Namun sayangnya hal ini belum bisa diterapkan secara menyeluruh di wilayah NKRI. Sebab masih banyak konflik yang terjadi hanya karena masalah perbedaan pendapat. Seharusnya masyarakat Indonesia harus mulai sadar akan indahnya hidup berdampingan satu sama lain.

6. Mewujudkan Masyarakat Madani

Masyarakat madani merupakan masyarakat yang memiliki adab terhadap sesama, mampu bersosial dan berdamai. Tujuan mewujudkan masyarakat madani juga menjadi salah satu bagian penting dari Bhinneka Tunggal Ika . Masyarakat Indonesia bisa bersosialisasi tanpa memandang ras, suku, dan perbedaan lainnya.

Semua masyarakat berhak menjalin hubungan dengan siapapun tanpa terkecuali. Tentu pentingnya mewujudkan masyarakat madani tidak lepas dari beragamnya budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Namun dalam kenyataannya, masih banyak faktor penghalang seperti golongan, kelompok, maupun kelas sosial yang membuat masyarakat enggan bersosial dengan sesama lainnya.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika

1. Common Denominator

Common denominator bisa diartikan sebagai persamaan secara umum. Prinsip ini juga berarti sebagai modal masyarakat Indonesia dalam menyikapi perbedaan. Bahkan tiap perbedaan pasti terdapat persamaan. Tentu saja hal ini membuat perbedaan tidak perlu diperdebatkan secara serius hingga menimbulkan konflik.

Misalnya saja dalam perbedaan antar agama di Indonesia. Meskipun berbeda agama namun persamaannya memiliki Tuhan yang tunggal. Hal ini juga berlaku pada perbedaan lainnya. Seperti bahasa, suku, hingga kebudayaan tiap daerah.

Adanya persamaan diharapkan masyarakat Indonesia paham tentang keragaman yang ada di Indonesia. Tiap warga negara berhak memiliki kepercayaan akan agama, bahasa, suku, maupun kebudayaan mereka.

2. Tidak Memiliki Sifat Formalistis

Tidak formalistik berarti Bhinneka Tunggal Ika tidak mengajarkan formalistik antar sesama warga negaranya. Namun masyarakat harus memberi rasa hormat serta rukun kepada sesamanya. Dari sinilah akan muncul yang namanya kehidupan bermasyarakat.

Artian tidak formalistik juga termasuk memperbolehkan masyarakatnya berkehidupan secara universal, tanpa diskrimininasi. Semuanya bisa bergabung menjadi satu hingga dapat mewujudkan masyarakat yang rukun dan damai.

3. Tidak Bersifat Enklusif

Tidak bersifat enklusif berarti memandang dan memperlakukan sama tiap kelompok, suku, maupun organisasi yang ada di Indonesia. Kelompok yang besar/mayoritas tidak diperbolehkan memaksakan kehendak atas kelompok minoritas. Tujuannya agar masyarakat Indonesia tidak mengalami perpecahan karena kelompok atau organisasi.

Adanya prinsip ini bukan berarti tidak memperbolehkan terciptanya kelompok. Kelompok tetap bisa berdiri namun harus menghormati pihak lain yang pemahamanannya berbeda. Prinsip satu ini tentu cocok diterapkan di Indonesia. Hikmahnya, setiap masyarakat sadar bahwa hidup berdampingan memiliki manfaat yang sangat besar.

4. Memiliki Sifat Konvergen

Sifat konvergen bearti dewasa dalam menghadapi perbedaan pendapat atau budaya. Jika terdapat pertikaian sebaiknya diselesaikan dengan mencari titik temu antara kedua belah pihak. Disini semuanya harus terbuka dan sebisa mungkin tidak mementingkan satu belah pihak.

Menjadikan sifat konvergen merupakan salah satu prinsip utama dalam Bhinneka Tunggal Ika . Masyarakat Indonesia tidak boleh secara sepihak mementingkan satu belah pihak. Namun kedua belah pihak dapat bermusyawarah dengan baik sampai mendapati titik temu antara keduanya.

Penerapan/Implementasi Bhinneka Tunggal Ika

1. Perilaku Inklusif

Seseorang mesti menganggap dirinya masuk ke dalam suatu populasi yang luas. Tujuannya agar sifat sombong dan melihat dirinya melebihi dari yang lain tidak muncul. Hal ini berlaku juga di suatu kelompok. Kepentingan bersama mesti diutamakan dibanding keuntungan/kepentingan pribadi.

Dengan adanya mufakast, semua elemen di dalam sebuah perkumpulan akan merasa puas dan senang. Sebab tiap kelompok yang berbeda memiliki peranannya masing-masing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2. Mengakomodasi Sifat Prulalistik

Indonesia merupakan negara bangsa paling prulalistik di dunia jika dilihat dari keragaman yang ada di dalamnya. Hal ini menjadikan nusantara disegani oleh bangsa lain. Namun kondisi ini juga mesti dikelola dengan baik, sebab tidak menutup kemungkinan akan ada disintegrasi di dalamnya.

Sikap toleran, saling menghormati, dan kasih sayang menjadi kebutuhan wajib untuk segenap rakyat Indonesia. Sebab bumi pertiwi kaya akan suku bangsa, bahasa, agama, adat, hingga ras dan budaya. Dengan adanya saling toleran, terciptanya masyarakat yang tentram dan damai bukanlah impian semata.

3. Tidak Mencari Menangnya Sendiri

Di kehidupan sehari-hari, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Terlebih di sistem demokrasi yang dianut Indonesia menuntut rakyatnya untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Oleh karena itu, sikap saling hormat antar sesama menjadi hal yang amat penting.

Bhinneka Tunggal Ika yang sifatnya konvergen harus benar-benar nyata ada di kehidupan berbangsa dan bernegara. Sifat divergen mesti dijauhkan karena akan merusak tatanan berkehidupan dan bertoleransi.

4. Musyawarah untuk Mufakat

Mencapai mufakat dalam musyawarah memang penting karena menjadi salah satu kunci kerukunan hidup di Indonesia. Segala perbedaan haruslah dicari solusi tengahnya agar bisa mendapat inti kesamaan.

Hal ini bertujuan agar segala macam gagasan yang muncul akan diakomodasikan dalam kesepakatan.

5. Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban

Rasa rela berkorban dan berkasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga sesuai dengan pedoman yang menyebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling beranfaat untuk lainnya. Tak hanya di dalam kehidupan bernegara, bahkan dalam agama pun diajarkan hal demikian.

Dampak Positif dan Negatif Bhinneka Tunggal Ika

1. Dampak Positif

Bhinneka Tunggal Ika hadir membawa Indonesia menjadi negara yang makmur, maju, damai, dan bersosial budaya. Oleh sebab itu, semboyan bangsa ini memiliki banyak dampak positif. Salah satunya dapat menjaga persatuan bangsa Indonesia.

Sikap toleransi pun dapat ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sikap tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial sebab pertikaian dapat diredam secara cepat.

Selain toleransi, dampak positif masyarakat pun memiliki sikap solidaritas. Sebab semboyan ini menekankan pada kehidupan sosial bersama meskipun berbeda suku/ras.

Dengan berkumpulnya masyarakat dengan golongan berbeda, maka akan membuat sikap tolong-menolong dan solidaritas makin berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

2. Dampak Negatif

Tak hanya dampak positif, namun ada juga dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak-dampak ini secara tidak langsung memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Yakni banyaknya salah penafsiran yang dilakukan oleh sejumlah golongan. Salah penafsiran ini bukannya membuat damai, namun dijadikan sebagai alasan konflik.

Banyak yang menyuarakan hak-hak yang bertentangan dengan norma di Indonesia. Hal tersebut tidak bisa dihindarkan mengingat semboyan Indonesia memperbolehkan masyarakat untuk menganut kepercayaan, ras, suku, dan bahasa. Semboyan tersebut seringkali disalahgunakan oleh kelompok radikal.

Mereka beralasan bahwa kehidupan sosial seperti apapun diperbolehkan di Indonesia. Salah tafsir ini biasanya terjadi di wilayah-wilayah yang kurang pengetahuan seputar Negara Indonesia. Maka sudah selayaknya pemerintah dan masyarakat lainnya turut berperan mengenalkan arti semboyan negara ini kepada yang belum paham sepenuhnya.

Contoh Penerapan Bhinneka Tunggal Ika pada Kehidupan Sehari-hari

Tak hanya sebagai semboyan saja, contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika pada kehidupan sehari-hari ternyata sangat banyak, antaralain:

  • Mau berteman dengan siapa saja.
  • Bersikap merendah dan tidak memandang remeh oranglain.
  • Memberikan kebebasan beragama kepada sesama.
  • Tidak memaksa oranglain mengikuti ajaran agamanya.
  • Adil terhadap sesama.
  • Bertindak, berperilaku sesuai norma/aturan yang berlaku di masyarakat.
  • Menumbuhkan sikap tenggang rasa antar sesama warga.
  • Memiliki toleransi tinggi dan mudah memaafkan oranglain.
  • Menjaga suasana masyarakat agar selalu tentram sehingga tidak menimbulkan perpecahan.
  • Menjunjung tinggi kepentingan bersama diatas kepentingan golongan hingga individu.
  • Rela berkorban dan berjuang demi keutuhan negara.
  • Menghindari perilaku membeda-bedakan berdasarkan latar belakang kehidupannya.
  • Menghargai dan menghormati tiap perbedaan pendapat.
  • Menjalankan kewajiban yang dimiliki sebagai warga negara.
  • Menerima hak sewajarnya dan tidak mengambil hak oranglain.
  • Gemar gotong royong dalam menyelesaikan berbagai hambatan atau masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Aktif dan mau bergelut dalam kegiatan positif.
  • Mempererat silaturahmi dengan keluarga, saudara, tetangga, dan oranglain.

Ternyata tak hanya sebatas semboyan, makna Bhinneka Tunggal Ika begitu dalam dan peranannya dalam mempersatukan bangsa Indonesia sangat kuat. Semoga artikel diatas bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.