AKSARA JAWA dan Pasangannya | Sandangan, cara menulis, contoh

Aksara jawa merupakan huruf-huruf yang lazim digunakan di Pulau Jawa. Aksara satu ini lahir dari turunan aksara Bhrahmi yang digunakan di nusantara sejak dulu. Mulai dari tanah Jawa, Melayu, Sunda, Bali, hingga Sasak.

Aksara satu ini begitu lekat dengan sejarah Aji Saka dan dua abdi kesayangannya. Awal mula digunakannya sekitar abad ke 17 masehi atau di era kerajaan Mataram Islam.

Aksara Jawa terdiri atas gabungan aksara kawi dan abugida. Di dalamnya terdapat beberapa tata cara menulis dan berbagai macam unsur serta aturan lainnya. Penting sekali mengenal bagaimana asal mula diciptakannya aksara jawa. Karena itu, dalam tulisan ini kita akan mengulas secara lengkap tentang aksara Jawa.

Apa Itu Aksara Jawa?

Tulisan aksara jawa

Aksara Jawa adalah salah satu aksara turunan dari aksara Bhrahmi. Aksara Jawa juga masuk dalam tulisan dengan sistem Abugida, artinya tulisan aksara jawa ditulis dari kiri ke kanan. Berbeda dengan aksara arab yang ditulis dari kanan ke kiri.

Tiap aksara jawa melambangkan suatu suku kata dan telah ditentukan sebelumnya posisi aksara dalam kata tersebut. Uniknya, dalam menulis aksara jawa tidak digunakan spasi atau scriptio continua. Oleh karena itu pembaca harus paham teks bacaan bila ingin membedakan tiap katanya.

Aksara Jawa dikenal pula dengan Hanacaraka. Hal ini karena aksara jawa paling dasar adalah hanacaraka. Tetapi sebenarnya selain aksara carakan masih ada beberapa aksara jawa lainya. Berikut ulasan lengkap soal aksara Jawa.

1. Aksara Jawa Carakan

Aksara satu ini dikategorikan dalam aksara dasar. Carakan bisa berarti nama-nama yang dipakai untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa jawa. Di dalam setiap aksara carakan ini, terdapat bentuk pasangannya masing-masing. Misal aksara pasangan digunakan untuk mematikan aksara vokal sebelumnya.

Aksara carakan dalam bahasa jawa terdiri dari:

Aksara Jawa

Ha Na Ca Ra Ka Pa Dha Ja Ya Nya
Ada sebuah kisah Mereka sama-sama sakti
Da Ta Sa Wa La Ma Ga Ba Tha Nga
Terjadi sebuah pertarungan Dan akhirnya semuanya mati

Perlu diingat, setiap aksara carakan memiliki makna tersendiri. Dalam berbagai sumber disebutkan, berikut makna dalam aksara carakan tersebut:

Adapun makna dari aksara Jawa adalah sebagai berikut:

  • Huruf Ha merupakan hana hurup wening suci. Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai adanya hidup adadalah kehendak dari Tuhan yang Maha Suci.
  • Huruf Na merupakan Nur Candra atau warsitaning Candara. Dalam bahasa Indonesaia berarti pengharapan yang dilakukan manusia agar selalu mengharapkan adanya sinar dari Ilahi.
  • Huruf Ca merupakan cipta weding, cipta dadi, ataupun cipta mandulu. Bisa diartikan sebagai suatu arah dan tujuan yang diberikan oleh Sang Maga Tunggal.
  • Huruf Ra merupakan rasaingsun handulusih yang berarti cinta sejati adalah cinta yuang muncul dari cinta kasih dalam nurani.
  • Huruf Ka merupakan karsaningsun memayuhayuning bawana yang berarti sebuah hasrat yang ditujukan untuk sebuah kesejahteraan alam.
  • Huruf Da merupakan dumadining Dzat kang tanpa winangenan yang berarti bahwa kita harus menerima kehidupan ini dengan lapang dada dan apa adanya.
  • Huruf Ta merupakan tatas, titis, tutus, titi lan wibawa yang berarti sesuatu yang mendasar, totalitas dalam memandang sebuah hidup.
  • Huruf Sa merupakan suram ingsun handulu sifatullah yang berarti pembentukan kasih sayang sebagaimana kasih yang berasal dari Tuhan.
  • Huruf Wa merupakan wujud hana tan kena kinira yang berarti ilmu manusia yang hanya terbatas, hanya saja implementasinya sangat tidak terbatas.
  • Huruf La merupakan lir handaya paseban jati yang berarti menjalankan hidup semata-mata hanya demi untuk memenuhi tuntutan Tuhan.
  • Huruf Pa merupakan papan kang tanpa kiblat yang berarti hakihat Tuhan yang sejatinya ada tanpa arah.
  • Hruuf Dha merupakan duwur wekasane endek wiwitane yang berarti untuk bisa mencapai puncak harus dimulai dari dasarnya dahulu atau dari bawah terlebih dahulu.
  • Huruf Ja merupakan jumbuhing kawula lan gusti yang berarti senantiasa berusaha demi mendekati Tuhan dan memahami kehendak dari Tuhan.
  • Huruf Ya merupakan yakin marang sembarang tumindak kang dumadi yang berarti yakin terhadap ketetapan dan kudrat Ilahi.
  • Huruf Nya merupakan nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang berarti memahami sunnatullah atau kodrat dari kehidupan ini.
  • Huruf Ma merupakan madep mantep manembah maring Ilahi yang berarti adalah mantap di dalam menyembah Tuhan.
  • Huruf Ga merupakan guru sejati sing muruki yang berarti pembelajaran kepada guru nurani.
  • Huruf Ba merupakan bayu sejati kang andalani yang berarti menyelaraskan diri kepada gerak gerik dari alam.
  • Huruf Tha merupakan tukul saka niat yang berarti segala sesuatu harus tumbuh dan diawali dengan niat.
  • Huruf Nga merupakan ngracut busananing manungso yang berarti melepas ego pribadi pada manusia.

Aksara carakan memiliki makna yang begitu agung dan luar biasa. Tak salah bila kemudian bahasa jawa dikenal sebagai bahasa yang begitu santun. Bahkan pada setiap katanya saja ada makna luar biasa.

Selain mengandung makna yang luar biasa, beberapa aksara carakan juga memiliki tata cara penulisan tersendiri. Misalnya:

  • Huruf Ha bisa digunakan untuk fonem ‘a atau ‘ha’. Jadi ada kemungkinan bila ada aksara carakan ha dalam sebuah kalimat yang ditulis dalam aksara carakan, bisa jadi itu ha atau justru a. Misalnya hana atau ana. Keduanya ditulis dengan aksara carakan ha. Hanya saja, aturan ini tidak berlaku untuk nama atau jenis kata bahasa asing yang bukan berasal dari bahasa jawa.
  • Untuk huruf aksara carakan da digunakan untuk mewakili aksara latin yang bagian huruf d-nya meletup dimana posisi lidah berada di bagian belakang pangkal gigi seri atas kemudian diletupkan. Jadi d dalam aksara carakan berbeda dengan yang ada di bahasa Melayu atau Indonesia.
  • Huruf aksara carakan Dha digunakan untuk jenis d-retofleks. D jenis ini adalah d dimana posisi lidah sama dengan /d/ untuk bahasa Melayu ataupun Indonesia. Hanya saja bunyinya diletupkan.
  • Huruf aksara carakan Tha digunakan untuk t-retofleks dimana posisi lidahnya mirip dengan /d/. Hanya saja pengucapannya tidak diberatkan. Untuk bunyinya, tha sangat mirip aksen Bali dalam menyuarakan huruf “t”.

2. Pasangan Aksara Carakan

Tiap-tiap aksara Jawa Carakan juga memiliki bentuk dan pasangan yang berbeda. Aksara Pasangan digunakan untuk mematikan atau menghilangkan bentuk vokal yang ada pada aksara Carakan. Misalnya ‘Ja’ menjadi ‘j’, ‘Ba’ menjadi ‘b’. Dalam kata misalnya untuk kata sebab. Maka huruf b terakhir harus mendapatkan pasangan.

Agar kamu lebih memahami soal penggunakaan aksara pasangan, maka penting untuk dijelaskan mengenai aturan bagaimana cara penggunaan aksara carakan dan pasanganya.

Pasangan aksara carakan bisa dilihat pda tabel di bawah ini. Cara penulisanya tidak dibuat sejarah, melainkan terletak di bawah aksara carakan. Berikut tabel tersebut:

Pasangan Aksara Jawa - Copy

Aksara pasangan adalah bentuk khusus dalam aksara jawa yang digunakan untuk menghilangkan atau mematikan vokal yang melekat pada aksara carakan. Vokal yang dimatikan adalah vokal pada aksara carakan yang terletak sebelum aksara pasangan. Jadi aksara pasangan digunakan untuk menulis suku kata yang tidak mengandung vokal.

Contoh Penggunaan Pasangan Aksara Jawa

Tanpa adanya pasangan aksara jawa, kita akan kesulitan menulis sebuah kalimat yang tepat. Misalnya ketika hendak menulis kalimat “mangan sego” (makan nasi), kita butuh aksara pasangan.

Tanpa aksara pasangan, kata mangan sego malah akan menjadi manganasego. Kita  perlu mematikan atau menghilangkan huruf vokal yang ada di kata na agar menjadi ‘n’ saja.

Adapun cara meletakkan pasangan huruf carakan ini adalah meletakkanya pada aksara carakan se. Dengan begitu cara membaca kalimat tersebut jadi mangan sego, bukan mangana sego.

Lebih lengkapnya, berikut beberapa contoh penulisan aksara carakan dan pasanganya dalam kalimat.

Contoh Aksara jawa

Jadi apa itu Aksara pasangan? Aksara pasangan adalah pasangan dalam aksara jawa merupakan bentuk khusus dari aksara jawa itu sendiri. Kegunaannya untuk mematian atau menghilangkan vokal dari huruf sebelumnya. Aksara pasangan bisa digunakan untuk menulis suku kata tanpa ada vokalnya.

3. Aksara Jawa Swara

Aksara Swara

Aksara swara merupakan huruf yang digunakan untuk menuliskan beberapa huruf vokal. Asalnya dari suatu kata serapan atau dari bahasa asing. Tujuan penggunaan aksara swara ini untuk menegaskan pelafalan aksara tersebut.

4. Sandangan Aksara Swara

Setelah mengenal apa yang disebut dengan aksara Swara, penting juga untuk membedakanya dengan sandangan aksara Swara. Sebab nyatanya memang ada banyak sekali yang bingung membedakan antara apa itu aksara swara dengan sandangan aksara swara.

Sandangan Aksara Swara - Copy

Nah berbeda dengan aksara swara yang bisa mandiri, maka sandangan aksara swara adalah bentuk huruf vokal yang tidak mandiri. Sandangan aksara swara digunakan ketika berada di bagian tengah dari kata. Di dalam sandangan akasara swara dibedakan berdasar cara membacanya.

  • Sandangan aksara Swara tidak bisa bertindak atau dijadikan sebagai bentuk aksara pasangan.
  • Apabila aksara Swara bertemu dengan konsonan pada akhir suku kata yang sebelumnya, maka sigegan tersebut harus dimatikan dengan pangkon.
  • Aksara Swara bisa diberikan sandangan bernama wignyan, wulu, suku, cecak, dan lain sebagainya.

jadi dapat disimpulkan bahwa sandangan aksaran swara atau sandangan dalam aksara jawa berarti suatu huruf vokal yang tidak bisa berdiri sendiri. Aksara sandangan biasanya digunakan di tengah kata. Dalam sandangan bisa dibedakan dengan cara bacanya.

5. Aksara Jawa Murda

Aksara jawa murda bisa diartikan sebagai jenis huruf kapital dalam aksara jawa. Aksara satu ini merupakan huruf khusus yang digunakan untuk menulis huruf depan sebuah tempat, nama orang, atau kata-kata lain yang seharusnya diawali dengan huruf kapital. Aksara murda pun bisa digunakan untuk mengawali suatu kalimat atau paragraf.

Aksara Murda

Beberapa kegunaan aksara ini misalnya untuk menuliskan nama gelar, nama lembaga pemerintahan, nama geografi, nama orang, serta nama lembaga yang berbadan.

Kata-kata tersebut dalam bahasa Indonesia ditulis dengan menggunakan huruf besar. Karena itu, dalam bahasa Jawa harus digunakan aksara khusus yang dikenal dengan aksara Murda ini.

Hanya saja perlu diingat, bahwa tidak semua aksara jawa carakan terdapat aksara murda-nya. Aksara murna jumlahnya hanya delapan aksara saja. Aksara mudar juga dilengkapi dengan pasangan yang fungsinya sama dengan pasangan dalam aksara lain.

Contoh Aksara Murda

Aksara Murda tidak begitu sulit diaplikasikan dalam penulisan. Tapi kalau kamu masih kedulitan dalam mengaplikasikan aksara murda, demi membantu kamu belajar semakin mahir. Berikut beberapa aksara murda, khususnya saat menjumpai kalimat yang menggunakan huruf kapital atau huruf besar.

Aturan penulisan aksara murda tidak berbeda dengan aksara carakan lainya. Hanya saja ada sedikit tambahan, berikut beberapa tambahan tersebut:

  • Aksara Murda tidak bisa difungsikan sebagai sigeg atau konsonen penutup untuk jenis suku kata.
  • Bila ada aksara Murda yang menjadi sigeg, maka secara otomatis harus dituliskan bentuk aksara pokoknya.
  • Bila dalam satu suku kata terdapat lebih dari satu bentuk aksara Murda, diberlakukan dua aturan yang bisa dipilih. Pertama mencantumkan aksara murda untuk bagian terdepan saja atau menuliskan semua aksara Murda yang ditemui.

6. Aksara Jawa Wilangan

Aksara wilangan berarti aksara yang digunakan untuk menuliskan huruf atau bilangan dalam bahasa jawa. Dalam aksara jawa terdapat banyak bunyi jika diucapkan. Bunyinya pun akan berbeda tergantung pada setiap kata yang ditulis pada aksara tersebut. Misalnya untuk huruf A di kata papat. Huruf A bisa dibadan pada kata Lara.

Wilayan atau bilagan ditulis dengan menggunakan kata atau angka. Empat bisa ditulis ‘4’ atau ‘empat’. Angka adalah lambang bilangan atau nomor. Angka bisa digunakan untuk menunjuk berbagai hal. Mulai dari ukuran, berat, panjang, luas, satuan waktu, nilai uang, dan lain sebagainya.

Dalam bahasa jawa, berbagai jenis kuantitas penulisan angka ini dilakukan dengan cara mengapitkan tanda yang terletak pada pangkat bagian awal serta akhir penulisan angka. Kalau untuk menulis satuan dalam bahasa jawa, maka bisa ditulis dengan menuliskan secara lengkap nama satuan tersebut. Misalnya satuan kilometer, kilogram, kiloliter dan lain sebagainya.

7. Aksara Rekan

Aksara jawa memiliki kelemahan, salah satunya adalah jumlahnya yang terbatas sehingga tidak bisa memenuhi segala keperluan penulisan. Terutama yang berasal dari negara lain.

Sebagai solusi untuk permasalah ini, maka dikenalkanlah aksara Rekan yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Pengertian aksara rekan adalah aksara yang dipakai untuk penulisan huruf serapan, terutama untuk yang diserap dari bahasa Arab. Contoh aksara rekan misalnya huruf f, kh, dz dan lainnya.

Guna aksara rekan adalah menuliskan konsonan yang terdapat pada kata-kata asing agar sesuai dengan dengan bentuk aslinya. Dalam hanacaraka, aksara Rekan jumlahnya ada lima buah dimana tidak semuanya memiliki pasangan. Masing-masing aksara rekan memiliki penulisan yang berbeda, berikut rincianya:

  • Tidak semua aksara Rekan yang ada memiliki pasangan. Hanya aksara rekan Fa saja yang memiliki pasangan, sedangkan yang lainya lain memiliki pasangan.
  • Aksara Rekan dalam praktiknya bisa saja diberikan pasangan.
  • Seperti aksara lain, Aksara Rekan bisa diberikan sandhangan

Contoh Aksara Rekan

Untuk lebih memahami bagaimana penggunaan aksara rekan dalam kalimat, berikut beberapa contohnya:

8. Tanda Baca Aksara Jawa

Kita sudah mempelajari berbagai huruf dan bilangan dalam aksara jawa, maka kita juga harus mempelajari tanda baca dalam aksara jawa. Pada dasarnya penggunaan tanda baca dalam aksara jawa sama dengan yang ada di bahasa melayu atau bahasa Indonesia. Tanda baca atau pratandha dalam aksara Jawa dibutuhkan ketikan kita menulis kalimat dalam bahasa jawa.

Pada aksara jawa dikenal empat buah tanda baca yang perlu untuk diketahui agar bisa menulis hanacaraka dengan baik. Berikut tanda baca dalam aksara jawa tersebut:

  • Pada adeg-adeg. Tanda baca pada adeg-adeg digunakan untuk bagian depan kalimat di masing-masing alineanya.
  • Pada adeg. Tanda baca pada adeg digunakan untuk menandai bagian teks yang perlu diperhatikan. Kalau dalam bahasa indonesia kira-kira sama dengan tanda baca kurung atau petik.
  • Pada lingsa. Adalah tanda baca dalam aksara jawa yang digunakan di akhir kalimat, ia sebagai sebuah tanda intonasi yang masih belum selesai. Kalau dalam bahasa indonesia sama dengan tanda baca koma.
  • Pada lungsi, adalah tanda baca dalam aksara jawa yang digunakan pada akhir kalimat. Kalau dalam bahasa Indonesia sama dengan tanda baca titik.
  • Pada pangkat. Untuk tanda baca aksara jawa yang satu ini memiliki beberapa fungsi yang berbeda. Bisa digunakan untuk akhir pernyataan lengkap yang diikuti beberapa jenis fungsi rangkaian. Bisa pula digunakan untuk pangkat yang mengapit suatu petikan langsung.

Itulah berbagai macam aksara jawa, mulai dari huruf carakan hingga tanda baca. Selanjutnya kita pelajari soal sejarah aksara jawa.

Sejarah Aksara Jawa

Aksara jawa memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang dan penuh dengan nilai-nilai kehidupan. Berikut ulasan lengkap soal sejarah aksara jawa.

1. Perjalanan Aji Saka bertemu Prabu Dewata Cengkar

Aji Saka merupakan ksatria yang kerap melakukan perjalanan. Termasuk perjalanannya ke Kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar. Prabu Dewata Cengkar memiliki kebiasaan memakan daging manusia. Setiap hari Sang Raja memerintahkan bawahannya untuk menghindangkan daging manusia. Tentu saja hal tersebut membuat resah para rakyatnya.

Tak terkecuali Aji Saka sehingga ia berniat mengunjungi kerajaan tersebut. Aji Saka semakin yakin untuk melawan Dewata Cengkar bersama dua abdi setianya. Sesampainya di pinggiran hutan Medang Kamulan, Aji Saka memerintahkan salah satu abdinya yakni Sembada untuk tetap tinggal di hutan menjaga keris pusaka miliknya.

Keris tersebut harus benar-benar dijaga dan jangan diserahkan kepada siapapun kecuali Aji Saka sendiri. Begitulah pesan dari ksatria pemberani itu.

2. Kesepakatan Prabu Dewata Cengkar dan Aji Saka

Abdi lainnya yakni Dora mengikuti Aji Saka sampai ke istana Dewata Cengkar. Setelah bertemu dengan raja Medang Kamulan itu, Aji Saka langsung membuat kesepakatan yakni ia bersedia dimakan oleh raja tersebut namun dengan satu syarat. Syaratnya adalah Prabu Dewata Cengkar harus menyerahkan tanah kekuasaannya seluas sorban yang dikenakannya.

Prabu Dewata Cengkar pun menyetujui permintaan tersebut. Aji Saka kemudian meminta Dewata Cengkar mengukur tanah yang diminta dengan memegang salah satu ujung sorban tersebut. Ujung sorban lainnya dipegang oleh Aji Saka sendiri. Mulailah raja menarik serta membentangkan sorban tersebut.

Dewata Cengkar terus menarik dan membentangkan sorban. Anehnya, sorban tersebut terus membentang dan tidak pernah henti. Prabu Dewata Cengkar terus membentangkan sorban sampai ujung jurang. Akhirnya di ujung jurang, ia tewas terlempar ke lautan. Aji Saka pun menjadi raja daerah tersebut karena dianggap menjadi pahlawan bagi rakyat kerajaan tersebut.

Namun tak berapa lama, ia teringat akan keris miliknya yang dititipkan kepada Sembada. Kemudian ia memerintahkan Dora untuk mengambil keris tersebut pada Sembada yang masih di hutan.

3. Pertempuran Dora dan Sembada

Setelah mendapat perintah Aji Saka, Dora menuju hutan menjalankan perintah tersebut. Awalnya kedua abdi setia itu hanya bercakap-cakap biasa mengenai keadaan serta kondisi satu sama lain. Percakapan-pun mengarah ke keris yang dititipkan raja mereka.

Dora meminta Sembada untuk mengembalikan keris milik Aji Saka. Namun Sembada masih teringat perintah Aji Saka yang mana tidak boleh memberikan keris tersebut kepada orang selain tuannya. Sementara Dora merasa harus mematuhi perintah tuannya tentang keris tersebut.

Akhirnya kedua abdi tersebut tidak mau mengalah satu sama lain. Sebab mereka menganggap sedang menjalankan amanah yang diberikan Aji Saka. Pertempuran Dora dan Sembada pun tak terelakan. Mereka bertempur mati-matian untuk mempertahankan amanah yang diembannya.

Keduanya saling mengeluarkan kesaktian serta kekuatannya masing-masing sampai tewas bersamaan. Kabar kematian kedua abdi setia tersebut pun sampai ke telinga Aji Saka.

4. Lahirnya Aksara Jawa

Menyesal atas kecerobohannya sendiri, Aji Saka pun membuat persembahan khusus untuk dua abdi setianya. Maka diciptakanlah barisan huruf atau aksara yang sampai sekarang kita kenal dengan aksara jawa atau hanacaraka. Makin berkembangnya waktu dan zaman, aksara tersebut kian populer.

Aksara jawa buatan Aji Saka telah menggeser penggunaan huruf palawa yang saat itu digunakan pada era kerajaan Hindu-Budha. Aksara Palawa sendiri merupakan jenis huruf yang mirip dengan aksara jawa. Hanya saja huruf palawa digunakan oleh masyarakat yang masih mengenal bahsa sansekerta.

Di masa kerajaan islam, mulailah disosialisasikan aksara jawa atau abjad carakan dan dikenal sampai saat ini.

5. Persebaran Aksara Jawa

Aksara jawa mulai dicetak di abad 19 Masehi. Di wilayah Asia Tenggara, jenis aksara ini digunakan oleh seluruh masyarakat Thailand sampai sekarang. Aksara jawa memang memiliki kemiripan dengan aksara Thailand. Hal ini bisa dilihat dari goresan, lengkungan, dan strukturnya yang memiliki banyak kesamaan.

Hal ini memberikan kesimpulan bahwa penyebarannya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa aksara jawa adalah gabungan dari aksara abugida dan aksara kawi.

Penulisan aksara jawa pun mirip seperti aksara hindi. Tata cara penulisannya dilakukan dengan cara menggantung. Seiring berkembangnya waktu, para penddik pun mengajarkan aksara jawa melalui penulisan aksara diatas garis.

6. Deretan Aksara Jawa yang Penuh Arti

Aksara yang diciptakan raja Aji Saka ini memiliki empat deret. Deret tersebut mengartikan peristiwa pertempuran antara Dora dan Sembada. Berikut makna di tiap deretannya :

  • Ha Na Ca Ra Ka mewakili Ono Wong Loro yang berarti ada dua orang
  • Da Ta Sa Wa La mewakili Podho Kerengan yang berarti berkelahi bersama-sama
  • Pa Da Ja Ya Nyha mewakili Podho Joyone yang berarti sama-sama kuat
  • Ma Ga Ba Tha Nga mewakili Merdo Dadi Bathang Lorone yang berarti keduanya sama-sama meninggal dunia

7. Tentang Hanacaraka

Aksara jawa memiliki aneka bentuk untuk menuliskan nama, pengejaan asing, hingga konsonan bertumpuk. Aksara satu ini termasuk ke dalam tulisan abugida yang mana cara penulisannya dimulai dari kiri ke kanan. Tiap aksara melambangkan suatu suku kata dan ditentukan oleh posisi aksara.

Penggunaannya pun tidak menggunakan spasi sehingga para pembacanya harus benar-benar memahami teks bacaannya. Tujuannya agar bisa membedakan tiap kata yang tertera.

Aksara jawa sebenarnya kekurangan tanda baca jika dibandingkan dengan aksara latin. Terutama untuk tanda baca dsarnya. Misalnya tanda tanya, seru, titik dua, hingga tanda hubung.

Aksara satu ini terbagi lagi menurut beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Untuk aksara dasarnya sendiri terdiri atas 20 kata yang digunakan dalam menulis bahsa Jawa modern. Tiap suku kata memiliki dua bentuk.

Pertama adalah nglegena atau akasara telanjang serta pasangan. Kebanyakan aksara selain aksara dasar merupakan konsonan. Konsonan tersebut disebut juga retrofleks yang kerap digunakan dalam bahasa jawa kuno.

Namun seiring berkembangnya zaman, huruf-huruf tersebut mulai kehilangan representasinya. Maksudnya adalah representasi suara dari suara asli dan kemudian fungsinya mulai berubah.

Hanacarakan sendiri merupakan peninggalan nenek moyang yang harus dilestarikan oleh generasi penerus. Di era modern pun pengenalan aksara jawa kerap dilakukan di sekolah melalui pelajaran bahasa jawa.

8. Media dan Alat Penulisan Aksara Jawa

Pada masa lampau, aksara ditulis dengan cara dipahat atau digores pada berbagai media. Mulai dari logam seperti emas, perunggu, tembaga, hingga batu. Kemudian seiring berkembangnya waktu, media penulisannya kian beragam yakni menggunakan bahan-bahan lunak seperti nipah, ron-tal, hingga kertas. Alat untuk menggoresnya bisa menggunakan tatah kecil atau pasak.

Tatah kecil atau pasak ini dibuat dengan suut tajam pada bagian ujungnya. Kemudian sudut tersebut dibuat melengkung dan pipih. Selain untuk menorehkan aksara, pasak tersebut juga digunakan untuk mengiris dan menghaluskan daun menjadi lempiran-lempiran tipis.

Prasasti di masa lampau sebagian besar ditemukan dijumpai memiliki media batu, perunggu, serta lempeng emas. Prasasti yang digunakan untuk menulis aksara ini juga bisa dikatakan sebagai dokumen resmi negara.

Cara Menulis Aksara Jawa di Microsoft Word

Meskipun perkembangan teknologi kian pesat, bukan berarti menulis aksara Jawa di era saat ini mudah. Hanya saja butuh pengaturan tersendiri. Seperti halnya aksara lainnya, di microsoft word pun kita bisa menuliskan aksara jawa. Pada dasarnya, cara penulisannya menggunakan font unduhan dari sumber lainnya. Berikut tutorial menulisnya :

  • Pertama unduh Hanan Font terlebih dulu, sebab microsoft word tidak menyediakan font aksara jawa sebagai font bawaan. Unduhan font tersebut sama seperti mengunduh font lainnya.
  • Selesai mengunduh, buka file dan instal font tersebut ke komputer anda
  • Buka microsoft word dan cobalah ketikan “anlw” (tanpa tanda petik)
  • Blok rangkaian huruf tersebut dan ganti dengan font hanan di menu font
  • Untuk menggunakan font secara langsung, anda bisa menggunakan tombol shift di keyboard komputer anda.
  • Anda pun bisa membuat tulisannya terlebih dulu dengan font latin atau langsung mengetiknya di keyboard
  • Font aksara jawa hanya bisa dibaca oleh komputer yang sama-sama sudah diinstal font hanan tersebut.

Demikian ulasan tentang aksara jawa, sejarah aksara jawa beserta cara menulisnya di microsoft word. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *